Tim SAR gabungan belum mengerahkan helikopter dalam operasi mencari lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Basarnas menilai opsi udara belum aman dan sementara memusatkan pencarian melalui laut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan SAR Banten Al Amrad menyebut koordinasi dilakukan lintas unsur untuk menentukan metode yang paling aman. Menurut dia, dugaan posisi korban berada di sekitar Gunung Anak Krakatau yang masih beraktivitas sehingga penggunaan helikopter memiliki risiko tersendiri.
Saat ini pencarian dilakukan menggunakan kapal dengan pembagian sektor di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
"Sama dengan kami yang sudah koordinasikan sejauh itu.Dengan kondisi, karena ini posisi datum target korban adalah di sekitaran Anak Gunung Krakatau. Dan sekarang Gunung Krakatau masih posisi aktif, akan sulit bila pencarian (dengan helikopter)," kata Al Amrad.
Advertisement
Identitas 5 Jurnalis dan 3 Kru yang Dicari
Selain aktivitas gunung, Basarnas juga mengacu pada rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait zona bahaya di sekitar Gunung Anak Krakatau. "Dan di situ dari PVMBG menyatakan bahwa dengan radius 3 kilometer," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, pencarian sementara dilakukan melalui jalur laut. Tim SAR membagi wilayah operasi ke sejumlah sektor dan mengerahkan kapal dari berbagai unsur untuk menyisir perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Delapan orang yang masih dicari terdiri atas tiga kru speedboat dan lima jurnalis. Mereka yakni Warta (55), kapten kapal; Surakman (60), anak buah kapal (ABK); Heriyanto (49), pemandu atau guide; serta lima jurnalis, yaitu M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Pencarian melibatkan unsur SAR dari Lampung dan Banten serta pihak terkait lainnya.
Hingga hari kedua, keberadaan speedboat beserta seluruh penumpangnya masih belum diketahui.