Rupiah Menguat ke Rp 16.820, Ini Proyeksi Pekan Depan
Pergerakan nilai tukar rupiah pada sore ini dipengaruhi oleh harapan pasar terhadap calon Ketua The Fed yang diusulkan oleh Donald Trump.
Menurut Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat di bidang ekonomi, mata uang rupiah mengalami sedikit penguatan dengan ditutup di level Rp 16.820 pada akhir perdagangan sore ini. "Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 76 poin setelah sebelumnya sempat naik 80 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.896," ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Jumat (23/1/2026).
Ia juga memperkirakan bahwa untuk perdagangan pada hari Senin mendatang, mata uang rupiah akan mengalami fluktuasi namun tetap ditutup lebih rendah dalam rentang Rp 16.820 hingga Rp 16.850. Penguatan rupiah ini dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar yang sedang menunggu keputusan Presiden AS Donald Trump mengenai siapa yang akan menjadi Ketua Federal Reserve (Fed) selanjutnya, menggantikan Jerome Powell. Jika Ketua Fed yang baru lebih akomodatif, hal ini akan meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut dalam tahun ini.
Selain itu, data terbaru dari ekonomi AS menunjukkan bahwa kondisi perekonomian lebih baik dari yang diperkirakan. Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal ketiga tercatat melebihi ekspektasi.
"Pada saat yang sama, pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilitas alih-alih kelemahan, seperti yang disampaikan oleh pejabat Federal Reserve (Fed). Oleh karena itu, ekspektasi akan penurunan suku bunga pada pertemuan yang dijadwalkan pada 27-28 Januari kemungkinan sudah tidak relevan," jelasnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah melunakkan ancamannya terhadap Greenland. Trump menyatakan bahwa ia telah mengamankan akses total dan permanen bagi AS ke Greenland melalui sebuah kesepakatan dengan NATO. Kepala NATO pun menekankan bahwa sekutu harus meningkatkan komitmen mereka terhadap keamanan di kawasan Arktik untuk menghadapi ancaman yang berasal dari Rusia dan China.
Pengaruh Budaya Eropa Sangat Besar
Sementara itu, para pemimpin Uni Eropa akan meninjau kembali hubungan mereka dengan Amerika Serikat dalam pertemuan puncak darurat yang dijadwalkan pada hari Kamis. Hal ini dipicu oleh ancaman dari Trump mengenai tarif dan kemungkinan tindakan militer untuk memperoleh Greenland, yang telah mengguncang kepercayaan dalam hubungan transatlantik, menurut keterangan dari beberapa diplomat.
"Trump juga menyatakan harapannya agar tidak ada tindakan militer AS lebih lanjut di Iran, namun ia menambahkan bahwa AS akan bertindak jika Iran melanjutkan program nuklirnya," ungkapnya.
Di sisi lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, menyatakan pada hari Kamis setelah melakukan pembicaraan dengan Trump di Davos bahwa persyaratan untuk jaminan keamanan bagi Ukraina telah disepakati. Meskipun demikian, isu penting terkait wilayah dalam konteks perang melawan Rusia masih belum terpecahkan. Trump telah mendorong Ukraina untuk mencapai perdamaian setelah hampir empat tahun berkonflik, meskipun saat ini hanya ada sedikit indikasi bahwa Rusia bersedia menghentikan pertempuran.
Rekomendasi IMF
Selain itu, dalam konteks penguatan nilai tukar rupiah, Dana Moneter Internasional (IMF) telah memberikan rekomendasi kepada Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan penuh kehati-hatian. IMF menekankan bahwa nilai tukar rupiah harus berfungsi sebagai penyangga terhadap guncangan utama di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi. Mereka juga menilai bahwa pengaturan nilai tukar di Indonesia masih bersifat mengambang secara de facto, yang berarti rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar. Hal ini terlihat dari pergerakan signifikan rupiah selama periode tekanan eksternal yang baru-baru ini terjadi.
Dalam situasi seperti ini, BI melakukan intervensi valuta asing (foreign exchange intervention/FXI) untuk mengelola volatilitas nilai tukar rupiah. Menurut IMF, intervensi ini dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk pasar spot valuta asing, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta intervensi non-deliverable forward (NDF) di luar negeri. Namun, IMF mengingatkan bahwa intervensi tersebut harus dilakukan secara bijaksana dan terukur. "Intervensi harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang," pungkasnya.