Kurs Rupiah Dibayangi Rilis Inflasi AS: Pasar Menanti Sinyal The Fed
Kurs Rupiah bergerak terbatas di tengah fokus pasar menanti rilis data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed, memicu ketidakpastian investor.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Mata uang Garuda menguat tipis 0,01 persen menjadi Rp16.826 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.828 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap berbagai data ekonomi global.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pergerakan kurs rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh sikap pasar. Investor global tengah menantikan rilis laporan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat untuk Januari 2026. Data ini diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai dinamika inflasi terkini.
Fokus utama pasar tertuju pada implikasi data IHK terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Terdapat perbedaan ekspektasi di kalangan pelaku pasar terkait waktu potensi pemangkasan suku bunga acuan The Fed. Keputusan The Fed akan sangat menentukan arah pergerakan pasar keuangan global, termasuk Kurs Rupiah.
Inflasi AS dan Proyeksi Kebijakan The Fed
Pasar global saat ini memusatkan perhatian pada laporan inflasi IHK Januari 2026 yang akan segera dirilis. Data ini krusial untuk memahami lebih lanjut tren inflasi di Amerika Serikat. Harapannya, data IHK dapat menunjukkan moderasi inflasi, sebuah kondisi yang berpotensi membuka peluang bagi The Fed untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga kebijakan.
Josua Pardede menyoroti bahwa pelaku pasar memperkirakan adanya potensi moderasi inflasi. “Fokus pasar kini beralih pada laporan inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) Januari 2026 yang akan dirilis malam ini untuk memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai dinamika inflasi AS, di tengah perbedaan ekspektasi terkait waktu potensi pemangkasan suku bunga The Fed,” ungkapnya. Pasar secara keseluruhan masih mengantisipasi kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun 2026.
Namun demikian, ketidakpastian tetap membayangi terkait potensi penyesuaian neraca The Fed. Hal ini diperparah dengan ekspektasi pengangkatan Kevin Warsh sebagai Chairman pada Mei 2026. “Meskipun Ketua yang akan datang tersebut sebelumnya dikenal menentang pembelian aset, belakangan ia memberi sinyal keterbukaan untuk berkoordinasi dengan Departemen Keuangan guna membantu meredakan tekanan pada imbal hasil,” ujar Josua.
Dampak Data Tenaga Kerja AS terhadap Dolar
Sentimen lain yang turut memengaruhi pergerakan dolar AS berasal dari rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Data Non-farm Payrolls (NFP) AS menunjukkan peningkatan signifikan. Pada Januari 2026, NFP naik sebesar 130 ribu, jauh melampaui angka Desember 2025 yang direvisi turun menjadi 48 ribu.
Capaian NFP ini juga melampaui ekspektasi pasar yang hanya memprediksi kenaikan sebesar 70 ribu. Kenaikan bulanan ini merupakan yang terkuat dalam lebih dari satu tahun terakhir, mengindikasikan kekuatan pasar tenaga kerja AS. Data ini secara langsung mendorong penguatan dolar AS di pasar global.
Sementara itu, tingkat pengangguran AS secara tak terduga turun menjadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen. Penurunan ini mengindikasikan tanda awal stabilisasi pasar tenaga kerja pada tahun 2026. “Merespons perkembangan tersebut, pelaku pasar menggeser ekspektasi waktu pemangkasan suku bunga The Fed berikutnya menjadi Juli 2026, dari sebelumnya diperkirakan pada Juni 2026,” kata Josua.
Sentimen Domestik dan Proyeksi Kurs Rupiah
Dari sisi domestik, tekanan terhadap Kurs Rupiah sebagian besar berasal dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pelemahan ini terjadi seiring dengan investor asing yang masih membukukan arus keluar bersih dari pasar saham Indonesia. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati investor offshore terhadap pasar ekuitas domestik.
Sikap hati-hati investor asing juga dipicu oleh ketidakpastian terkait potensi risiko penurunan peringkat oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International). Penurunan peringkat dapat berdampak negatif pada aliran investasi asing ke Indonesia. Faktor-faktor ini secara kolektif memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Berdasarkan berbagai faktor global dan domestik tersebut, Josua Pardede memperkirakan bahwa Kurs Rupiah akan bergerak dalam kisaran yang terbatas. Rupiah diperkirakan akan berada di rentang Rp16.775 hingga Rp16.900 per dolar AS. Prediksi ini mencerminkan dinamika pasar yang kompleks dan saling terkait.
Sumber: AntaraNews