The Fed Tahan Suku Bunga, Begini Dampaknya ke Ekonomi Indonesia
Ketua Fed Jerome Powell menunjukkan pendekatan yang semakin berhati-hati, sebuah sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko global belum sepenuhnya mereda.
Bank sentral AS, The Fed menutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen pada Rabu (29/4) waktu setempat. Keputusan Fed untuk kembali menahan suku bunga menegaskan bahwa ketidakpastian global masih menjadi realitas utama yang harus dihadapi seluruh negara, termasuk Indonesia.
Ketua Fed Jerome Powell menunjukkan pendekatan yang semakin berhati-hati, sebuah sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko global belum sepenuhnya mereda.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai keputusan bank sentral AS, The Fed menahan suku bunga menjadi sinyal perubahan pendekatan kebijakan global ke depan.
Proyeksi itu diperkuat dengan adanya wacana figur seperti Kevin Warsh yang cenderung membawa pendekatan kebijakan yang lebih berbasis realisasi dibandingkan forward guidance.
"Jika kebijakan global bergeser menjadi less forward-looking dan lebih reactive terhadap realisasi inflasi dan risiko aktual, maka volatilitas akan menjadi the new normal. Ini berarti negara seperti Indonesia harus jauh lebih sigap dan tegas dalam menjaga stabilitas," ujar Fakhrul dikutip dari Antara, Kamis (30/4).
Dalam konteks domestik, Fakhrul menekankan bahwa saat ini Rupiah berada dalam fase overshooting, yaitu kondisi di mana tekanan nilai tukar bergerak melampaui fundamental jangka pendek dan sedang dalam proses mencari titik keseimbangan baru.
"Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, mencari kestabilan barunya di tengah tekanan global. Dalam fase seperti ini, pasar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa otoritas siap menjaga stabilitas. Begitu BI menunjukkan langkah siap melakukan monetary tightening, Siap-siap rupiah akan bisa kembali menguat," jelas Fakhrul.
Oleh karena itu, ia menilai bahwa Bank Indonesia (BI) perlu mulai menunjukkan tightening bias yang lebih kuat sebagai bagian dari upaya menjaga kredibilitas dan meredam tekanan eksternal.
"Respons hawkish dari Bank Indonesia menjadi penting, bukan hanya untuk menahan tekanan nilai tukar, tetapi juga untuk mengelola ekspektasi pasar. Ini bukan soal mengejar The Fed, tetapi soal menjaga kepercayaan terhadap stabilitas domestik," tuturnya.
Singgung Sisi Fiskal
Sementara di sisi fiskal, Fakhrul menyoroti pentingnya kepastian arah APBN, termasuk penyesuaian terhadap program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah rasionalisasi dan kalibrasi belanja yang mulai dilakukan pemerintah merupakan sinyal positif bagi pasar.
"Penyesuaian anggaran, termasuk dalam program MBG, menunjukkan bahwa pemerintah responsif terhadap dinamika fiskal dan tidak terjebak dalam rigiditas. Ini penting untuk menjaga kredibilitas APBN di tengah tekanan global yang meningkat," katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pasar saat ini membutuhkan kejelasan terkait target fiskal dan strategi pembiayaan, terutama dalam konteks potensi tekanan dari harga energi dan kebutuhan belanja domestik.
"Kepastian target APBN menjadi kunci. Pasar harus melihat bahwa pemerintah memiliki ruang dan fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian tanpa mengorbankan disiplin fiskal. Ini akan menjadi jangkar utama kepercayaan investor," ujar dia.
Reformasi Sudah Berjalan
Lebih lanjut, Fakhrul menambahkan bahwa berbagai reformasi yang telah berjalan, baik di sektor fiskal maupun pasar keuangan, mulai menunjukkan dampak yang positif, meskipun belum sepenuhnya tercermin dalam stabilitas pasar jangka pendek.
"Reform yang sudah dilakukanbaik dari sisi transparansi pasar, pengelolaan fiskal, maupun koordinasi kebijakan harus terus dikomunikasikan secara konsisten dan terukur, jangan biarkan pasar dan masyarakat blank. Ini penting agar pasar memahami bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah volatilitas global," tambahnya.
Sinergi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan kini memasuki fase yang lebih menentukan, yang mana kebijakan tidak hanya harus tepat, tetapi juga harus terlihat kredibel dan siap dieksekusi.
"Masyarakat dan pasar saat ini tidak hanya butuh kebijakan yang benar, tetapi juga kepastian bahwa kebijakan tersebut akan dijalankan dengan disiplin dan fleksibilitas. Kehati-hatian pengambil kebijakan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus kepercayaan," jelas dia.