ICDX Proyeksikan Harga Emas Capai US$6.000 per Troy Ounce hingga Akhir 2026
Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) memproyeksikan harga emas bisa menyentuh US$6.000 per troy ounce pada akhir 2026. Ketahui faktor pendorong dan potensi reli harga emas di tengah ketidakpastian global.
Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) memproyeksikan harga emas akan bergerak antara US$5.500 hingga US$6.000 per troy ounce hingga akhir tahun 2026. Volatilitas tinggi diperkirakan akan terus menyertai pergerakan harga komoditas ini. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang masih berlanjut.
Analis Research and Development ICDX, Tiffani Safinia, menjelaskan bahwa beberapa lembaga keuangan global telah menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun 2026. Peningkatan ini didorong oleh risiko geopolitik global yang persisten serta permintaan struktural dari bank sentral. Ini menunjukkan ekspektasi reli yang semakin menguat di tengah situasi global.
Reli harga emas ini juga diperkuat oleh pembelian agresif oleh bank sentral. Kondisi ini mempertegas peran emas sebagai aset lindung nilai yang penting. Proyeksi ini memberikan gambaran tentang potensi pergerakan harga emas di masa mendatang.
Proyeksi Berbagai Lembaga Keuangan Global
Jajak pendapat Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional menunjukkan median proyeksi harga emas untuk tahun 2026. Angka tersebut berada di US$4.746,50 per troy ounce, melonjak signifikan dibandingkan estimasi sebelumnya. Pada Oktober 2025, estimasi harga emas hanya mencapai US$4.275.
Beberapa institusi keuangan besar juga telah merevisi target harga emas mereka. Goldman Sachs Group Inc. merevisi naik target harga emas akhir 2026 menjadi US$5.400 per troy ounce. Sebelumnya, target mereka adalah US$4.900 per troy ounce.
JP Morgan memproyeksikan harga emas akan mencapai US$6.300 per troy ounce. Sementara itu, Morgan Stanley mematok proyeksi rata-rata US$4.600 dengan skenario bullish mencapai US$5.700 pada paruh kedua 2026. Deutsche Bank menetapkan US$6.000 per troy ounce untuk tahun ini, CITI Research US$5.000 per troy ounce, dan UBS sebesar US$6.200 per troy ounce.
Faktor Pendorong Pergerakan Harga Emas
Menurut ICDX, pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh lonjakan harga energi yang sempat memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi inflasi seringkali membuat investor mencari aset yang aman seperti emas.
Dolar AS dan imbal hasil US Treasury 10 tahun juga menunjukkan fluktuasi yang signifikan. Pasar terus memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed yang akan datang. Pergerakan dua indikator ini memiliki dampak besar pada daya tarik emas.
Dalam kondisi saat ini, dolar AS dan imbal hasil obligasi AS dinilai dapat menjadi faktor yang lebih dominan. Faktor ini melebihi sentimen safe haven dari konflik geopolitik yang ada. Kebijakan moneter bank sentral AS menjadi perhatian utama.
Tiffani Safinia menambahkan bahwa tahun 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade terakhir. Ini memperkuat peran komoditas tersebut sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi yang relevan di tengah ketidakpastian global.
Kinerja Emas Sepanjang Tahun 2025
Secara garis besar, sepanjang tahun 2025 harga emas naik signifikan sebesar 64 persen. Kenaikan ini disertai dengan 53 rekor tertinggi sepanjang masa (all time highs). Ini menunjukkan performa yang sangat kuat dari komoditas emas.
Rekor tertinggi kedua tercatat mencapai US$4.550 per troy ounce pada tanggal 26 Desember 2025. Rata-rata harga emas sepanjang tahun tersebut sekitar US$3.431 per troy ounce. Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral mencapai sekitar 863 ton.
Tiffani mengungkapkan beberapa sentimen utama yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025. Ini termasuk tiga kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 bps (basis points) melalui keputusan FOMC (Federal Open Market Committee). Konflik Timur Tengah (Israel-Iran), perang Rusia-Ukraina, serta ketegangan AS-China turut berkontribusi.
Total pembelian emas oleh bank sentral AS hanya mencapai sekitar 863 ton, lebih rendah dibandingkan periode 2022-2024. Pergerakan dolar AS cenderung berfluktuasi karena dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan moneter. Ekspektasi suku bunga juga meningkatkan alokasi ke emas. "Hal ini memberikan gambaran bahwa kombinasi faktor makro dan geopolitik mendorong reli emas sepanjang 2025," ucap Tiffani Safinia.
Sumber: AntaraNews