Harga Emas Dalam Negeri Diprediksi Tembus Rp4,2 Juta per Gram di 2026
Ibrahim menjelaskan, ketegangan geopolitik menjadi faktor utama di balik revisi proyeksi kenaikan harga emas tersebut.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Berjangka, Ibrahim Assuabi merevisi proyeksi harga emas dunia dan logam mulia domestik untuk 2026. Revisi ini didorong meningkatnya risiko geopolitik global serta ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di dalam negeri.
Menurut Ibrahim, harga emas dunia berpeluang menembus level setara USD 6.500 per troy ounce pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi emas global yang sebelumnya sempat berada di kisaran USD 5.598. Kenaikan ini dinilai mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global.
Sejalan dengan itu, harga logam mulia di pasar domestik juga diproyeksikan melonjak signifikan. Ibrahim merevisi target harga emas batangan dari sebelumnya Rp3,5 juta menjadi sekitar Rp4,2 juta per gram pada 2026, menyesuaikan dengan dinamika global dan kondisi pasar dalam negeri.
"Nah, saya merevisi bahwa di tahun 2026 ini karena harga emas sudah menyentuh di level USD5.598, kemungkinan besar di tahun 2026 itu akan menyentuh di level USD 6.500 per troy ounce. Kemudian saya merevisi juga untuk logam mulia, yang tadinya logam mulia di level Rp3.500.000. Di tahun 2026 ini berubah menjadi Rp4.200.000," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (29/1).
Ibrahim menjelaskan, ketegangan geopolitik menjadi faktor utama di balik revisi proyeksi tersebut. Mulai dari perang dagang, dinamika politik Amerika Serikat, arah kebijakan bank sentral AS, hingga potensi konflik di Timur Tengah dinilai memperbesar risiko global.
Ia menilai, konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi tersebut berisiko mendorong inflasi global yang lebih tinggi, sehingga investor cenderung mencari instrumen lindung nilai seperti emas.
"Kalau seandainya terjadi perang kemungkinan besar harga minyak akan melambung tinggi dan ini akan membuat inflasi tinggi," ujarnya.
Kebijakan Perdagangan AS
Selain itu, kebijakan perdagangan dan geopolitik Amerika Serikat, termasuk potensi embargo energi serta memanasnya hubungan dengan sejumlah negara, dinilai dapat melemahkan dolar AS.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut biasanya menjadi katalis positif bagi pergerakan harga emas dunia.
"Sehingga ini akan membuat harga emas dunia terus mengalami kenaikan," ujarnya.
Pasokan Domestik Terbatas, Rupiah Jadi Faktor Tambahan
Selanjutnya, dari sisi dalam negeri, Ibrahim menilai keterbatasan pasokan logam mulia menjadi salah satu faktor penguat kenaikan harga. Walaupun pemerintah telah mengenakan bea keluar bijih emas sebesar 7,5 persen hingga 15 persen, ekspor tetap berjalan karena sebagian besar tambang emas dikuasai investor asing yang terikat kontrak jangka panjang.
"Karena yang mengeksplorasi tambang emas di dalam negeri kebanyakan adalah investor-investor asing yang mereka sudah mempunyai mempunyai perjanjian ya bahwa pada saat nanti eksplorasi kami yang memiliki dana nanti barang harus dibawa ke saya, ke luar negeri," ujarnya.
Di sisi lain, Ibrahim memprediksi nilai tukar Rupiah pada 2026 masih bergerak terbatas dan berpotensi berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS. Menurutnya, pergerakan rupiah tersebut juga berkontribusi terhadap pembentukan harga emas dan logam mulia di pasar domestik.