Prediksi Harga Emas Antam pada Senin 9 Februari Tembus Rp2,9 Juta
Pergerakan harga dinilai akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih saling tarik-menarik.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diperkirakan bergerak tidak stabil pada perdagangan Senin 9 Februari 2026. Pergerakan harga dinilai akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih saling tarik-menarik.
Ibrahim menyebutkan bahwa peluang kenaikan harga emas Antam tetap terbuka. Jika tekanan beli menguat, harga emas berpotensi mendekati level psikologis Rp2.800.000 per gram dalam waktu dekat.
"Apabila harga emas Antam naik, resistance pertama di Rp2.800.000 per gram," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/2).
Menurut Ibrahim, area tersebut menjadi titik resistansi awal. Apabila berhasil dilewati, kenaikan lanjutan memungkinkan harga emas menyentuh kisaran Rp2.900.000 per gram sebagai target berikutnya.
"Apabila naik kembali, resistance kedua yaitu di 5.170 dolar per troy ounce, logam mulianya itu adalah di Rp2.900.000 per gram," ujar Ibrahim.
Risiko Koreksi dan Level Support Harga Emas
Di sisi lain, Ibrahim menilai harga emas Antam juga menghadapi potensi koreksi. Tekanan jual dapat menyeret harga turun menuju area support pertama di sekitar Rp2.725.000 per gram.
Jika pelemahan berlanjut, level support selanjutnya diperkirakan berada di kisaran Rp2.620.000 per gram. Area ini dinilai cukup krusial karena dapat menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.
"Apabila harga emas dunia turun rentang support pertamanya itu di 4.831 dolar AS per troy ounce. Kemudian logam mulianya (diperkirakan) di 2.725.000 per gram," kata dia.
Dia menjelaskan bahwa harga emas dunia pada akhir pekan lalu berada di level 4.964 dolar AS per troy ounce, sementara harga emas di pasar domestik tercatat sekitar Rp2.761.000 per gram. Posisi tersebut menjadi pijakan awal untuk membaca potensi pergerakan harga emas ke depan.
Faktor Global dan Sentimen Pasar Internasional
Ibrahim menjelaskan, fluktuasi harga emas global saat ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Salah satunya adalah penundaan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Selain itu, kebijakan bank sentral utama dunia seperti Bank of England dan Bank Sentral Eropa yang masih mempertahankan suku bunga turut memberikan tekanan terhadap pergerakan emas. Dari sisi geopolitik, tensi di Timur Tengah sempat mereda, meski risiko konflik dinilai belum sepenuhnya hilang.
Ibrahim juga menyoroti dinamika politik global, mulai dari pernyataan Iran terkait potensi serangan balasan, prediksi perdamaian Rusia–Ukraina, hingga isu hubungan AS dan China. Dia menilai berbagai intrik tersebut berpotensi kembali mendorong minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
"Ini juga sebenarnya intrik-intrik yang kemungkinan ke depannya akan membuat harga emas dunia mengalami kenaikan," pungkasnya.