Waktu Tepat Beli Emas Saat Dolar Melemah
Pengamat menilai indeks dolar AS berpotensi melemah akibat inflasi yang menurun, membuka ruang penguatan harga emas dunia dan logam mulia domestik.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan Indeks Dolar Amerika Serikat akan bergerak di bawah tekanan dalam beberapa hari ke depan.
Menurutnya, pelemahan tersebut dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya inflasi, yang menunjukkan tren penurunan.
“Kita lihat pelemahan indeks dolar disebabkan oleh apa? Oleh data ekonomi yang cukup lemah terutama adalah data inflasi yang terus mengalami penurunan,” kata Ibrahim dikutip dari Liputan6.com, Minggu (28/12).
Dalam jangka pendek, Ibrahim memperkirakan Indeks Dolar bergerak di kisaran support 97,579 dan resistance 98,398. Rentang ini mengindikasikan peluang pelemahan dolar, terutama pada awal pekan hingga pertengahan minggu.
“Indeks Dolar sendiri dalam 3 hari ke depan kemungkinan besar rentanya itu adalah di support 97,579 itu supportnya. Kemudian resistennya adalah di 98,398. Saya ulangi, untuk Indeks Dolar kemungkinan melemah di akhir tahun hari Senin sampai hari Rabu,” ujarnya.
Emas Menguat di Tengah Ekspektasi Suku Bunga
Pelemahan dolar mendorong pergeseran portofolio investor dari aset berbasis dolar ke instrumen lindung nilai. Ibrahim menyebut emas menjadi salah satu aset yang diuntungkan dalam kondisi tersebut.
“Apa yang mempengaruhi fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia yang kemungkinan besar masih akan mengalami kenaikan sampai akhir tahun 2026 di hari Rabu. Ada 2 faktor yang mempengaruhi adalah faktor Geopolitik, yang kedua adalah pelemahan Indeks Dolar,” kata dia.
Ia memproyeksikan harga emas dunia berpotensi bergerak menuju area resistance di kisaran USD 4.550 per troy ons, dengan peluang penguatan lanjutan hingga mendekati USD 4.600 apabila sentimen pasar mendukung.
“Kalau seandainya harganya naik, ya resisten pertama itu di USD4.550. Itu kalau di logam mulia menjadi Rp 2.650.000. Nah di hari Rabu ya itu kemungkinan besar kalau menguat resisten kedua itu di USD 4.570 ya sampai di USD 4.600,” jelasnya.
Sejalan dengan pergerakan global, harga logam mulia di pasar domestik diperkirakan ikut terdorong ke kisaran Rp2.650.000 hingga Rp2.700.000 per gram.
Selain inflasi, Ibrahim menyoroti ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Ia menilai peluang penurunan suku bunga pada awal 2026 masih terbuka, meski sebelumnya diproyeksikan hanya satu kali pemangkasan.
“Ini mengindikasikan bahwa di awal-awal tahun 2026 ada kemungkinan besar Bank Sentral Amerika akan kembali menurunkan suku bunga walaupun sebelumnya Powell sendiri mengatakan bahwa di tahun 2026 kemungkinan hanya menurunkan suku bunga satu kali,” pungkasnya.