Harga Emas Mendekati Rekor Tertinggi, Analis Wall Street Makin Optimistis di Tengah Meningkatnya Ketegangan Geopolitik Global
Harga emas kian mendekati rekor tertinggi usai menembus USD 4.500, dipicu data ekonomi global yang solid serta meningkatnya ketegangan geopolitik dunia kini.
Pasar emas global memulai tahun 2026 dengan sentimen yang sangat positif. Meskipun sempat mengalami beberapa koreksi, harga emas menunjukkan tren penguatan yang konsisten sepanjang minggu pertama tahun ini. Hal ini membuat harga emas mendekati rekor tertinggi yang tercatat pada bulan sebelumnya.
Menurut laporan dari Kitco yang dirilis pada Senin (12/1), harga emas spot dibuka di kisaran USD 4.370 per ounce. Dalam waktu dua jam setelah perdagangan dibuka, harga emas langsung melampaui level USD 4.400 per ounce.
Setelah itu, harga sempat mendekati USD 4.440 sebelum mengalami penurunan sementara untuk menguji level dukungan di USD 4.400 pada pagi hari Senin.
Setelah penurunan tersebut, harga emas kembali menunjukkan penguatan dan mencapai puncak jangka pendek di sekitar USD 4.450 per ounce. Penguatan ini berlanjut saat sesi perdagangan Asia dibuka pada malam Senin, membawa harga emas naik hingga mencapai USD 4.470 per ounce.
Momentum positif ini terus berlanjut hingga hari Selasa, saat harga emas hampir menyentuh USD 4.490 per ounce dan berada tepat di bawah level psikologis USD 4.500. Namun, emas juga mengalami koreksi yang signifikan pada pekan tersebut, dengan harga turun ke USD 4.444 sebelum kembali melemah ke kisaran USD 4.426. Meskipun demikian, tekanan jual tidak mampu menembus level dukungan kuat di USD 4.400 per ounce, yang menunjukkan bahwa minat beli tetap solid.
Diprediksi Masih akan Meningkat
Hari Kamis, harga emas berhasil menembus kembali level USD 4.470 per ounce dan bertahan di area yang lebih tinggi. Pasar kini bersiap untuk menghadapi rilis data ketenagakerjaan dari Amerika Serikat, yaitu laporan nonfarm payrolls bulan Desember. Data ketenagakerjaan tersebut dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar.
Meskipun tidak terlalu mengejutkan, angka ini cukup untuk memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve masih berada di jalur pelonggaran kebijakan moneter. Sentimen positif ini mendorong harga emas menembus level USD 4.500 per ounce pada Jumat pagi. Menjelang akhir pekan, harga emas bergerak stabil di sekitar level tersebut.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan konsensus yang hampir sepenuhnya bullish di kalangan analis Wall Street, sementara investor ritel atau Main Street tetap mempertahankan pandangan optimistis. "Up," kata analis pasar senior Barchart.com, Darin Newsom. "Berdasarkan hukum pertama Newton yang diterapkan pada pasar: pasar yang sedang tren akan tetap berada dalam tren tersebut sampai ada kekuatan eksternal yang mengubahnya. Saya tidak melihat adanya perubahan dari faktor eksternal, terutama dari sisi minat beli investor dan bank sentral," tambahnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan. "Up," ujarnya. "Kalender memang berubah dari 2025 ke 2026, tetapi fundamental pasar tidak berubah. Bank sentral masih membeli emas. Ketegangan di Ukraina, Gaza, dan Venezuela masih tinggi. Mata uang fiat masih dikelola secara buruk. Dolar AS masih lemah. Suku bunga masih rendah. Investor mencari emas sebagai aset lindung nilai," tutur Rich Checkan.
Masukan dari Investor Ritel
James Stanley, analis senior di Forex.com, berpendapat bahwa tren kenaikan harga emas masih berlanjut. "Saya pikir level USD 4.500 bisa menjadi tantangan bagi pelaku pasar bullish, tetapi sejauh ini setiap koreksi selalu mendapat dukungan," katanya.
"Saya belum melihat bukti bahwa reli saat ini sudah berakhir." Pendapat ini menunjukkan keyakinan bahwa meskipun ada tantangan, dukungan yang terus-menerus dapat menjaga momentum harga emas.
Di sisi lain, Adam Button dari Forexlive.com menyoroti pentingnya faktor geopolitik terhadap nilai emas dan dolar AS. Ia mencatat bahwa pelanggaran norma dan hukum internasional yang terjadi pada awal 2026 dapat memberikan dampak yang signifikan. "Dunia sedang menyaksikan banyak pelanggaran terhadap tatanan internasional," kata Button.
"Ini membuat negara-negara mulai berpikir ulang soal ketergantungan pada dolar AS dan mendorong diversifikasi cadangan, termasuk ke emas." Hal ini menunjukkan bahwa situasi global yang tidak stabil dapat memengaruhi keputusan investasi, termasuk dalam hal cadangan emas.
Button juga menambahkan bahwa keputusan Mahkamah Agung AS mengenai kewenangan tarif Presiden AS dapat menjadi pemicu besar berikutnya bagi harga emas. "Jawaban atas pertanyaan apakah masih ada checks and balances itu bisa berarti pergerakan USD 500 pada harga emas," ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan potensi volatilitas yang dapat terjadi di pasar emas tergantung pada keputusan hukum yang diambil. Selain itu, survei Kitco menunjukkan bahwa dari 16 analis Wall Street yang berpartisipasi, 14 orang atau 88 persen memperkirakan harga emas akan naik dalam sepekan ke depan. Sementara itu, dari 268 responden investor ritel, sebanyak 69 persen memprediksi harga emas akan melanjutkan kenaikan.
Fokus Pasar
Pekan ini, fokus pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi yang signifikan, mencakup inflasi, penjualan rumah, serta data manufaktur dari AS. Meskipun demikian, para analis berpendapat bahwa faktor geopolitik dan kebijakan bank sentral tetap menjadi penggerak utama pergerakan harga emas.
"Emas terlihat konstruktif, begitu juga dolar," ungkap Marc Chandler dari Bannockburn Global Forex. "Pendorong utama tetap geopolitik, pembelian bank sentral, dan minat beli investor ritel."
Namun, tidak semua pihak sepenuhnya optimistis mengenai prospek harga emas. Analis dari CPM Group merekomendasikan untuk menjual emas dengan target awal sebesar USD 4.385 per ounce. "Emas dan logam mulia lainnya masih mengalami volatilitas tinggi," tulis CPM Group.
"Ada kekhawatiran akan aksi ambil untung jangka pendek setelah reli kuat dalam beberapa bulan terakhir."
Meskipun demikian, CPM Group berpendapat bahwa dalam jangka menengah hingga akhir kuartal pertama 2026, harga emas masih memiliki potensi untuk menguat kembali.
"Risiko politik dan ekonomi global masih jauh dari selesai," tulis mereka. "Namun sebelum itu, mungkin akan ada fase pelemahan jangka pendek."