Harga Emas Turun Akibat Penguatan Dolar AS, Simak Penyebab dan Proyeksinya
Kekuatan mata uang dolar AS dan kekhawatiran mengenai inflasi yang berkepanjangan terus mendorong ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga acuan
Harga emas dunia mengalami penurunan sebesar 2% pada perdagangan yang berlangsung pada hari Selasa. Kekuatan mata uang dolar AS dan kekhawatiran mengenai inflasi yang berkepanjangan terus mendorong ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga acuan, serta meningkatkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury). Menurut informasi yang dikutip dari CNBC pada Rabu (20/5), harga emas di pasar spot turun menjadi USD 4.474,40 per ons.
Bahkan pada sesi awal perdagangan, harga logam mulia ini sempat mencapai level terendahnya sejak akhir Maret lalu. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Juni juga menunjukkan penurunan sebesar 1,8%, dengan posisi terakhir di USD 4.476,80.
Kenaikan Suku Bunga Global Jadi Beban Utama
Edward Meir, seorang analis dari Marex, menjelaskan bahwa penurunan harga emas kali ini disebabkan oleh pergerakan serentak suku bunga di berbagai negara. "Kita sedang melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara di seluruh dunia, dan hal itulah yang paling membebani emas saat ini. Dolar AS yang semakin kuat juga memberikan dampak negatif," ungkap Edward Meir.
Saat ini, imbal hasil obligasi 10-tahun AS berada di dekat level tertinggi dalam satu tahun terakhir, bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS. Kedua instrumen ini mengalami lonjakan seiring dengan antisipasi investor terhadap kemungkinan perubahan kebijakan dari Bank Sentral AS (The Fed) yang cenderung lebih ketat (hawkish) guna meredam inflasi yang disebabkan oleh lonjakan harga energi.
Lonjakan Harga Minyak Dunia
Tingginya imbal hasil obligasi secara otomatis meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas, mengingat komoditas ini tidak memberikan imbal hasil atau bunga. Di sisi lain, penguatan dolar AS membuat komoditas yang dihargai dengan mata uang tersebut menjadi jauh lebih mahal bagi para pemilik mata uang lainnya. Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis Brent masih bertahan di level tinggi.
Kondisi ini kian memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global akibat meroketnya biaya bahan bakar. Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, memberikan catatan terkait prospek emas jangka pendek: "Meskipun alasan struktural untuk berinvestasi pada emas sebagian besar tetap utuh, perkembangan makroekonomi jangka pendek telah menciptakan latar belakang yang lebih menantang bagi pergerakan harga," tulis Ole Hansen.
"Begitu tekanan langsung terkait sektor energi mulai mereda, permintaan dari bank sentral mungkin akan muncul kembali sebagai penggerak utama pasar," tambahnya.
Kini, perhatian para investor global tertuju pada rilis notulen rapat kebijakan (minutes of meeting) The Fed yang dijadwalkan keluar pada hari Rabu, guna membaca arah kebijakan moneter AS ke depan. Kejatuhan harga emas juga menyeret komoditas logam berharga lainnya pada sesi perdagangan yang sama.
Sementara itu, harga perak ikut anjlok 5,7% ke level USD 73,25 per ons. Harga platinum merosot 2,8% ke posisi USD 1.923,55 per ons dan harga palladium jatuh 3,3% ke angka USD 1.371,25 per ons.