Harga Emas Tiba-Tiba Anjlok, Ternyata Ini Penyebabnya
Menurut laporan dari CNBC pada Rabu (11/2), harga emas turun 0,71 persen menjadi USD 5.028,43 per ons.
Harga emas mengalami penurunan lebih dari 1 persen pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) karena pasar sedang dalam fase konsolidasi menjelang rilis data pekerjaan dan inflasi di Amerika Serikat (AS). Data tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut mengenai prospek suku bunga dari Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Menurut laporan dari CNBC pada Rabu (11/2), harga emas turun 0,71 persen menjadi USD 5.028,43 per ons. Sementara itu, harga emas AS untuk pengiriman bulan April juga mengalami penurunan sekitar 0,42 prsen menjadi USD 5.057,90 per ons.
"Kami melihat sedikit penurunan atau konsolidasi menjelang sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis akhir pekan ini," ungkap Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.
Data nonfarm payroll untuk bulan Januari dijadwalkan dirilis pada hari Rabu, dengan para ekonom memprediksi adanya penambahan 70.000 pekerjaan pada bulan lalu. Selain itu, Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan Januari akan diumumkan pada hari Jumat. Penjualan ritel di AS juga menunjukkan hasil yang mengejutkan, tidak mengalami perubahan pada bulan Desember, yang mengindikasikan bahwa pengeluaran konsumen dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan melambat.
Prospek ekonomi yang kurang menggembirakan telah memperkuat ekspektasi akan penurunan suku bunga, dengan para pedagang memperkirakan dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah umumnya mendukung logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil, karena mengurangi biaya peluang untuk memegang logam tersebut.
"Kelemahan dolar AS kemungkinan akan terus menopang harga," kata Meger.
Ketegangan Hubungan Geopolitik
Dia mencatat bahwa ketegangan geopolitik serta harapan penurunan suku bunga masih memberikan dukungan bagi harga emas, ditambah lagi dengan level psikologis di angka USD 5.000. Pada bulan Januari, investor di India beramai-ramai membeli dana investasi emas melalui ETF (Exchange Traded Funds), seiring dengan melonjaknya harga emas yang melampaui aliran dana ke reksa dana ekuitas untuk pertama kalinya, menurut data industri yang dirilis pada hari Selasa.
Jumlah perak yang tersimpan di brankas London tercatat mencapai 27.729 metrik ton pada akhir Januari, mengalami penurunan sebesar 0,3 persen dibandingkan bulan Desember.
Sementara itu, stok emas mengalami kenaikan sebesar 0,6 persen menjadi 9.158 ton, menurut laporan dari London Bullion Market Association. Harga perak sendiri mengalami penurunan sebesar 3,05 persen menjadi USD 80,83 per ons, setelah sebelumnya naik hampir 7 persen dalam sesi perdagangan yang lalu.
"Arus keluar perak (produk yang diperdagangkan di bursa) membuat perak rentan terhadap volatilitas dalam jangka pendek dan penting untuk dipantau, tetapi pasar yang kekurangan pasokan menunjukkan pemulihan dalam beberapa bulan mendatang," ungkap Standard Chartered.
Di sisi lain, harga platinum turun sebesar 1,99 persen menjadi USD 2.081,55 per ons, sedangkan harga paladium mengalami penurunan sebesar 1,72 persen menjadi USD 1.710,33.