Harga Emas Merosot Usai Capai Rekor Tertinggi dalam Sejarah
Harga emas di pasar spot mengalami penurunan sebesar 1,1%, menjadi USD3.993,41 per ons.
Harga emas mengalami penurunan lebih dari 1% pada hari Kamis (Jumat waktu Jakarta), jatuh di bawah level USD4.000 per ons, yang sebelumnya tercapai dalam sesi sebelumnya. Penurunan harga emas global ini disebabkan oleh penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS) dan investor yang merealisasikan keuntungan mereka setelah adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Sementara itu, harga perak, yang didorong oleh momentum pasar emas, permintaan investasi yang kuat, serta defisit pasokan yang terus berlanjut, berhasil naik di atas USD50 per ons untuk pertama kalinya.
Dikutip dari CNBC pada Jumat (10/10/2025), harga emas dunia di pasar spot turun 1,1% menjadi USD3.993,41 per ons. Untuk kontrak pengiriman bulan Desember, harga emas turun 1,6% menjadi USD4.006,40. Indeks dolar AS juga naik 0,5% dan mendekati level tertinggi dalam dua bulan terakhir, yang membuat harga emas batangan yang dinyatakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri.
"Para spekulan mulai mengambil beberapa keping emas seiring berlakunya gencatan senjata di Gaza karena hal ini menurunkan suhu di wilayah yang secara historis bergejolak," ungkap Pedagang Logam Independen Tai Wong.
Israel dan Hamas telah menandatangani perjanjian gencatan senjata pada hari Kamis, yang merupakan tahap awal dari inisiatif Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik di Gaza.
"Namun, secara keseluruhan, keyakinan terhadap perdagangan ini sebagian besar tidak berkurang. Meskipun demikian, reli ini terjadi begitu cepat sehingga tidak ada dukungan nyata yang masuk hingga harga mencapai USD 3.850," tambah Wong.
Kenaikan Harga Emas
Pada hari Rabu, harga emas batangan mencatatkan lonjakan yang signifikan, melampaui USD4.000 per ons untuk pertama kalinya, dengan mencapai angka tertinggi sebesar USD4.059,05. Emas, yang merupakan aset non-imbal hasil, biasanya dianggap sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, telah mengalami kenaikan sekitar 52% sepanjang tahun ini.
Peningkatan harga ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain ketegangan geopolitik yang meningkat, pembelian yang kuat dari bank sentral, serta arus masuk yang besar ke dalam ETF. Selain itu, ekspektasi pemotongan suku bunga di AS dan ketidakpastian ekonomi yang berkaitan dengan tarif juga turut berkontribusi.
Risalah dari rapat bank sentral AS pada bulan September, yang dirilis pada hari Rabu, menunjukkan bahwa pejabat Federal Reserve sepakat bahwa risiko terhadap pasar kerja di AS cukup tinggi untuk mendukung penurunan suku bunga, meskipun mereka tetap waspada terhadap inflasi yang terus meningkat.
Federal Reserve melanjutkan siklus pemotongan suku bunga pada bulan September, dengan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Langkah ini menunjukkan upaya mereka untuk merespons kondisi ekonomi yang tidak menentu dan menjaga stabilitas pasar. Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi pasar, investor cenderung mencari aset yang lebih aman seperti emas untuk melindungi nilai investasi mereka.
Pengurangan Suku Bunga
Para pedagang memperkirakan adanya pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Oktober, yang kemungkinan akan dilanjutkan pada bulan Desember. Peluang untuk pemotongan tersebut diperkirakan masing-masing sebesar 95% dan 80%.
Sementara itu, harga perak mengalami kenaikan sebesar 1,3% menjadi USD49,49 per ons. Kenaikan harga logam ini mencatatkan lebih dari 70% sepanjang tahun ini, yang dipicu oleh kekuatan ekonomi makro yang sama yang mendorong reli emas serta kondisi pasokan yang ketat di pasar spot.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menyatakan, "Perak sedikit tertinggal saat ini, bergerak lebih agresif ke arah kenaikan dibandingkan emas dalam beberapa sesi terakhir." Di sisi lain, harga platinum turun sebesar 1,7% menjadi USD1.635,25, sedangkan harga paladium juga mengalami penurunan sebesar 1,2% menjadi USD1.431,58.