Harga Emas Global Tertekan akibat Dolar AS Menguat
Harga emas turun sebesar 1% setelah sebelumnya naik pada tingkat yang sama. Sejak terjadinya perang antara Iran dan AS, harga emas telah merosot hingga 15%.
Harga emas global mengalami penurunan sekitar 1% pada perdagangan hari Kamis. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak meningkat, yang memicu kekhawatiran terkait inflasi.
Hal ini juga menguatkan ekspektasi pasar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS), serta mendorong penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Mengutip CNBC, pada hari Jumat (22/5), harga emas di pasar spot tercatat turun 1% menjadi USD 4.500,07 per ounce. Di sisi lain, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni melemah 0,7% ke posisi USD 4.502,90 per ounce.
Menariknya, sehari sebelumnya, harga emas sempat mengalami penguatan lebih dari 1% selama sesi perdagangan di AS setelah mencapai titik terendah sejak 30 Maret. Kenaikan harga minyak sendiri tercatat lebih dari 2% setelah Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa uranium negara tersebut yang mendekati tingkat kualitas senjata tidak akan dikirim ke luar negeri.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menekankan bahwa ketidakpastian terkait negosiasi antara Iran dan AS masih menjadi perhatian utama pasar.
"Pada dasarnya, semuanya masih terkait dengan negosiasi antara Iran dan AS. Dalam konteks tersebut, muncul ketidakpastian apakah kesepakatan bisa tercapai atau tidak, dan situasi itu membuat kenaikan harga minyak semakin menekan emas," ujar Staunovo.
Harga Emas Turun 15 Persen
Arah yang dikeluarkan oleh Ayatollah Mojtaba Khamenei diprediksi dapat memperburuk hubungan dengan Presiden AS Donald Trump dan menyulitkan pembicaraan yang berkaitan dengan upaya untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran.
Sejak dimulainya perang pada akhir Februari, harga emas tercatat mengalami penurunan lebih dari 15%. Konflik yang berlangsung juga mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital untuk perdagangan energi di seluruh dunia.
Gangguan yang terjadi di wilayah tersebut turut mendorong peningkatan harga energi dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap inflasi global. Di sisi lain, dolar AS mengalami penguatan, yang menyebabkan emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan. Kenaikan ini berimplikasi pada meningkatnya biaya peluang untuk memegang emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Aset yang Berfungsi Lindungi Nilai
Staunovo menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak yang menyebabkan inflasi turut memberi tekanan pada bank sentral untuk menjaga suku bunga tetap tinggi atau bahkan melakukan kenaikan lebih lanjut.
"Kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi membuat bank sentral berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga atau bahkan berpotensi menaikkannya. Hal ini masih menjadi faktor penghambat bagi emas dalam jangka pendek," ungkap Staunovo.
Walaupun emas dikenal sebagai aset pelindung nilai terhadap inflasi, logam mulia ini cenderung mengalami tekanan ketika suku bunga berada pada level yang tinggi.
Menurut data dari CME FedWatch Tool, saat ini pelaku pasar memperkirakan ada peluang sebesar 58% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh bank sentral AS tahun ini. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan hari sebelumnya yang tercatat di level 48%.