Emas Turun Tipis, Pelaku Pasar Terapkan Strategi Wait and See
Harga emas mengalami penurunan kecil seiring dengan penantian investor terhadap perkembangan terbaru konflik antara AS dan Iran.
Harga emas di pasar internasional mengalami penurunan pada awal pekan ini, seiring dengan menantinya perkembangan terbaru terkait konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Penurunan harga ini terjadi menjelang batas waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk perdagangan minyak global.
Menurut laporan dari CNBC pada Selasa (7/4), harga emas spot tercatat turun sebesar 0,4% menjadi USD 4.654,99 per ounce pada pukul 13.31 waktu New York. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS justru mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1% dan ditutup pada level USD 4.684,70.
Pemerintah Iran menyatakan keinginannya untuk mengakhiri konflik dengan AS dan Israel secara permanen. Namun, Iran menolak tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam kerangka gencatan senjata sementara.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan peringatan tegas dengan mengancam akan "menurunkan neraka" ke Teheran jika kesepakatan tidak tercapai sebelum batas waktu yang telah ditentukan pada hari Selasa.
Ketidakpastian yang melingkupi situasi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dan memilih untuk menunggu sambil memantau perkembangan konflik yang telah berlangsung selama lima pekan terakhir.
Dampak Tekanan Suku Bunga dan Lonjakan Harga Minyak
Menurut para analis, pergerakan harga emas saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor geopolitik, tetapi juga oleh kebijakan suku bunga yang berlaku secara global.
Bart Melek, yang menjabat sebagai kepala strategi komoditas global di TD Securities, mengungkapkan bahwa perhatian pasar akan tetap terfokus pada konflik yang berlangsung dan arah suku bunga.
"Fokus kemungkinan tetap pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut, harga minyak akan terus naik akibat pasokan yang semakin ketat, sehingga mendorong tekanan inflasi," ujarnya.
Kenaikan harga energi dapat membatasi ruang gerak bank sentral, terutama Federal Reserve, dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Bahkan, kondisi ini berpotensi memicu kembali wacana mengenai peningkatan suku bunga jika harga energi terus melonjak, yang tentunya akan menjadi sentimen negatif bagi emas.
Sebagai aset yang berfungsi sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi, emas biasanya mendapatkan minat yang tinggi saat ketidakpastian meningkat.
Namun, karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga, daya tariknya akan berkurang ketika suku bunga berada pada tingkat yang tinggi.
Saat ini, para investor tengah menunggu beberapa data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data tersebut mencakup risalah rapat kebijakan Federal Reserve, angka Personal Consumption Expenditures (PCE), serta indeks harga konsumen (CPI). Bank sentral AS diketahui telah mempertahankan suku bunga pada bulan lalu, dan sebagian besar pelaku pasar saat ini memperkirakan bahwa tidak akan ada penurunan suku bunga sepanjang tahun ini.