Harga emas Pegadaian pada 22 Mei 2026 mengalami kenaikan seragam, dengan Antam mencapai Rp 2,89 juta.
Emas Antam dijual seharga Rp 2.898.000 per gram, sementara UBS dan Galeri24 masing-masing seharga Rp 2.849.000 dan Rp 2.788.000 per gram.
Pada hari ini, Jumat (22/5), harga emas yang ditawarkan oleh PT Pegadaian (Persero) mengalami kenaikan secara seragam. Semua jenis produk, termasuk UBS, Antam, dan Galeri24, mencatatkan peningkatan harga.
Berdasarkan informasi dari laman Sahabat Pegadaian, harga emas untuk produk UBS kini menjadi Rp 2.849.000 per gram, meningkat dari harga sebelumnya yang sebesar Rp 2.797.000 per gram. Sementara itu, harga emas Antam mengalami kenaikan menjadi Rp 2.898.000 per gram, naik dari Rp 2.862.000 per gram yang berlaku kemarin.
Selain itu, produk Galeri24 juga menunjukkan kenaikan sebesar Rp 32.000, sehingga harganya menjadi Rp 2.788.000 per gram dari harga sebelumnya yang sebesar Rp 2.756.000 per gram.
Perlu dicatat bahwa emas Galeri24 dijual dalam berbagai kuantitas, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Emas UBS tersedia dalam jumlah 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan harga emas Antam di Sahabat Pegadaian hanya tersedia untuk kuantitas antara 0,5 hingga 100 gram. Dengan demikian, konsumen memiliki banyak pilihan dalam memilih produk emas sesuai dengan kebutuhan dan budget masing-masing.
Daftar lengkap harga emas Pegadaian:
Galeri24
- 0,5 gram: Rp 1.462.000
- 1 gram: Rp 2.788.000
- 2 gram: Rp 5.509.000
- 5 gram: Rp 13.671.000
- 10 gram: Rp 27.270.000
- 25 gram: Rp 67.806.000
- 50 gram: Rp 135.505.000
- 100 gram: Rp 270.877.000
- 250 gram: Rp 675.529.000
- 500 gram: Rp 1.351.056.000
- 1.000 gram: Rp 2.702.112.000
Antam
- 0,5 gram: Rp 1.501.000
- 1 gram: Rp 2.898.000
- 2 gram: Rp 5.734.000
- 3 gram: Rp 8.575.000
- 5 gram: Rp 14.258.000
- 10 gram: Rp 28.458.000
- 25 gram: Rp 71.014.000
- 50 gram: Rp 141.946.000
- 100 gram: Rp 283.810.000
UBS
- 0,5 gram: Rp 1.540.000
- 1 gram: Rp 2.849.000
- 2 gram: Rp 5.653.000
- 5 gram: Rp 13.968.000
- 10 gram: Rp 27.790.000
- 25 gram: Rp 69.339.000
- 50 gram: Rp 138.393.000
- 100 gram: Rp 276.677.000
- 250 gram: Rp 691.488.000
- 500 gram: Rp 1.381.353.000.
Pemimpin Tertinggi Iran Bahas Isu Uranium
Harga emas dunia mengalami penurunan sekitar 1% pada perdagangan Kamis, dipicu oleh kenaikan harga minyak yang menimbulkan kekhawatiran inflasi. Hal ini memperkuat ekspektasi pasar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS), serta mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Menurut informasi yang dilansir oleh CNBC pada Jumat (22/5/2026), harga emas di pasar spot tercatat turun 1% menjadi USD 4.500,07 per ounce. Di sisi lain, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga melemah sebesar 0,7% menjadi USD 4.502,90 per ounce. Sebelumnya, pada sesi perdagangan AS, harga emas sempat menguat lebih dari 1% setelah menyentuh titik terendah sejak 30 Maret.
Kenaikan harga minyak sendiri tercatat lebih dari 2% setelah adanya pernyataan dari Pemimpin Tertinggi Iran yang menginstruksikan agar uranium negara tersebut yang mendekati kualitas senjata tidak dikirim ke luar negeri. Giovanni Staunovo, analis dari UBS, menyatakan bahwa ketidakpastian terkait negosiasi antara Iran dan AS masih menjadi perhatian utama pasar.
“Pada dasarnya, semuanya masih terkait dengan negosiasi antara Iran dan AS. Dalam konteks tersebut, muncul ketidakpastian apakah kesepakatan bisa tercapai atau tidak, dan situasi itu membuat kenaikan harga minyak semakin menekan emas,” ujar Staunovo. Dengan kondisi ini, pasar emas tampaknya akan terus berfluktuasi seiring dengan perkembangan yang terjadi di sektor energi dan diplomasi internasional.
Harga Emas Sempat Turun Sebesar 15%
Perintah yang dikeluarkan oleh Ayatollah Mojtaba Khamenei diperkirakan akan memperburuk hubungan dengan Presiden AS Donald Trump dan menyulitkan proses negosiasi untuk mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran. Sejak dimulainya perang pada akhir Februari, harga emas telah mengalami penurunan lebih dari 15%.
Konflik ini juga berdampak pada lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur perdagangan energi vital di dunia. Gangguan di kawasan tersebut turut mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai inflasi global.
Di sisi lain, nilai dolar AS mengalami penguatan. Kondisi ini mengakibatkan harga emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun juga mengalami peningkatan.