Rengekan Model Ansy Jan De Vries Ketahuan Rekayasa Kasus Pembegalan di Kebon Jeruk Jakbar

Pantauan di lokasi, Ansy keluar sekitar pukul 20.27 Wib mengenakan hoodie biru dan celana cokelat, didampingi kerabat serta dikawal polisi berpakaian preman.

Ady Anugrahadi
Oleh Ady Anugrahadi - Reporter
Rengekan Model Ansy Jan De Vries Ketahuan Rekayasa Kasus Pembegalan di Kebon Jeruk Jakbar
Rengekan Model Ansy Jan De Vries Ketahuan Rekayasa Kasus Pembegalan di Kebon Jeruk Jakbar (Merdeka.com)

Model wanita Ansy Jan De Vries menangis usai diperiksa sebagai saksi dalam kasus penyebaran berita bohong soal pembegalan dan pembacokan. Pemeriksaan berlangsung di Polda Metro Jaya, Kamis (21/5).

Pantauan di lokasi, Ansy keluar sekitar pukul 20.27 Wib mengenakan hoodie biru dan celana cokelat, didampingi kerabat serta dikawal polisi berpakaian preman. Saat dihampiri wartawan, dia memilih irit bicara.

"Enggak mau, enggak mau," kata Ansy di lokasi, Kamis malam.

Dia sempat menjawab pertanyaan awak media dengan gesture. Tak lama berdiri di depan wartawan, Ansy mendadak menangis tersedu-sedu sebelum dituntun kerabatnya masuk ke mobil.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto membenarkan pemeriksaan tersebut.

"Iya di siber dalam rangka penjelasan yang bersangkutan," singkat Budi saat dikonfirmasi, Kamis malam.

Sebelumnya, kabar Ansy Jan De Vries menjadi korban begal dan pembacokan di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, viral di media sosial. Polisi lalu mengecek lokasi kejadian hingga mendatangi Rumah Sakit Sumber Waras.

Terungkap Cuma Rekayasa

Ansy Jan De Vries usai diperiksa polda metro
Ansy Jan De Vries usai diperiksa polda metro Liputan6.com

Hasilnya, nama Ansy tak tercatat sebagai pasien. Polisi kemudian menemui langsung Ansy bersama tim psikologi, PPA, dan petugas kesehatan. Dari situ terungkap, cerita pembegalan itu bukan tindak kriminal.

"Kami tegaskan bahwa yang bersangkutan bukanlah menjadi korban begal ataupun tindakan kriminal lainnya," kata Budi.

Peringatkan Jangan Main-Main

Budi menyebut cerita itu dibuat karena iseng dan ingin menunggangi ramainya isu begal di media sosial.

"Yang pertama karena iseng, yang kedua ingin mengglorifikasikan bahwa beberapa kejadian viral tentang begal," ujar Budi.

Budi pun mengingatkan publik agar tak menyebarkan kabar bohong yang memicu kegaduhan.

Rekomendasi