Harga Emas dan Perak Hari Ini Anjlok Parah, Ternyata Ini Pemicunya
Harga emas di pasar spot turun 1,1 persen menjadi USD 5.118,16 per ons, sedangkan harga emas AS untuk kontrak pengiriman April ditutup 1 persen.
Harga emas mengalami penurunan lebih dari 1 persen pada hari Kamis (Jumat waktu Jakarta) akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan berkurangnya harapan akan penurunan biaya pinjaman. Hal ini disebabkan oleh ketegangan akibat perang di Iran yang menimbulkan kekhawatiran inflasi.
Dikutip dari CNBC, pada Jumat (13/3), harga emas di pasar spot turun 1,1 persen menjadi USD 5.118,16 per ons, sedangkan harga emas AS untuk kontrak pengiriman April ditutup 1 persen lebih rendah pada USD 5.125,80.
Kurs Dolar AS menguat untuk sesi ketiga berturut-turut, menjadikannya sebagai aset safe-haven yang kompetitif. Kenaikan nilai dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
"Indeks dolar yang lebih tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan kurangnya pemotongan suku bunga merupakan faktor negatif, tetapi konflik di Timur Tengah telah menghasilkan beberapa aliran dana ke aset aman," ujar Phillip Streible, Kepala Ahli Strategi Pasar di Blue Line Futures.
Di sisi lain, dua kapal tanker terbakar di perairan Irak, yang merupakan bagian dari peningkatan serangan Iran yang telah memutus pasokan energi di Timur Tengah. Sebagai respons, harga minyak naik tajam pada hari itu.
Pemimpin Tertinggi yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Iran akan membalas dendam atas darah para martirnya dan berkomitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup serta menyerang pangkalan-pangkalan AS.
Harga minyak mentah yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dengan meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Emas sering dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, namun suku bunga yang tinggi dapat membebani emas karena membuat aset yang menghasilkan imbal hasil menjadi lebih menarik.
"Jika mereka dapat mencegah harga minyak naik lebih jauh, emas seharusnya berada di posisi yang baik. Dari sisi bullish untuk emas, argumen utamanya adalah pembelian oleh bank sentral dan arus masuk dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang stabil, yang tetap positif sepanjang tahun," tambah Streible.
Harga Perak dan Logam Alami Fluktuasi
Bank sentral Chili baru saja melakukan pembelian emas besar pertamanya sejak tahun 2000. Pada bulan Februari, mereka berhasil meningkatkan cadangan emas menjadi USD 1,108 miliar, meningkat drastis dari USD 42 juta pada bulan Januari, yang setara dengan 2,2 persen dari total cadangan negara tersebut.
Sementara itu, harga perak mengalami penurunan sebesar 1 persen menjadi USD 84,90. Meskipun demikian, harga perak masih mencatatkan kenaikan lebih dari 146 persen sepanjang tahun lalu. Para analis di BMI mencatat bahwa mereka memperkirakan harga perak rata-rata akan mencapai USD 93 per ons pada tahun 2026.
Kenaikan ini diperkirakan akan didorong oleh permintaan investasi yang kuat, yang akan mengkonsolidasikan lonjakan harga yang terjadi pada tahun 2025, meskipun ada penurunan permintaan akibat kenaikan harga di sektor panel surya dan perhiasan.
Di sisi lain, harga platinum di pasar spot juga mengalami penurunan sebesar 1,1 persen menjadi USD 2.145,75, sementara harga paladium turun 1 persen menjadi USD 1.620,86. Penurunan harga-harga logam mulia ini menunjukkan dinamika pasar yang terus berubah, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan permintaan global. Dengan situasi ini, pelaku pasar harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di sektor logam mulia.