Harga Emas Anjlok Hingga Sentuh Level Segini
Penguatan dolar baru-baru ini telah memberikan dampak negatif terhadap permintaan emas.
Harga emas mengalami pemulihan pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) setelah sebelumnya mengalami penurunan. Meskipun demikian, harga emas tetap berada dalam tren bearish karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah yang terus menekan daya tarik logam mulia ini.
Menurut laporan dari CNBC pada Rabu (25/3/), harga emas turun sebesar 0,1 persen menjadi USD 4.400 per ons, meskipun masih jauh di atas titik terendah. Sementara itu, harga emas AS untuk kontrak pengiriman April tercatat turun 0,3 persen menjadi USD 4.395,70 per ons.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang lainnya menguat 0,5 persen pada hari Selasa. Kenaikan nilai dolar ini mengurangi daya tarik emas batangan yang dinyatakan dalam dolar AS karena menjadikannya lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Saat ini, harga emas di pasar spot telah menurun sebesar 21 persen sejak mencapai rekor tertinggi USD 5.594,82 per ons pada akhir Januari, dengan logam mulia tersebut kehilangan hampir 10 persen minggu lalu, yang merupakan kinerja terburuknya sejak September 2011. Di sisi lain, indeks dolar telah menguat sekitar 3 persen sejak awal perang.
Para analis pasar mengaitkan penurunan harga emas ini dengan kombinasi faktor makroekonomi dan penyesuaian posisi pasar.
"Meskipun harga emas awalnya mengalami kenaikan karena permintaan sebagai aset aman di awal konflik (Iran), harga emas baru-baru ini mengalami penurunan," ungkap Rajat Bhattacharya, Ahli Strategi Investasi Senior di Standard Chartered.
"Kami sering melihat pola ini berulang selama periode tekanan pasar yang tinggi karena investor mengumpulkan uang tunai untuk memenuhi margin call atau sekadar mengambil keuntungan sebisa mungkin," tambahnya.
Dia juga menekankan bahwa penguatan dolar baru-baru ini telah memberikan dampak negatif terhadap permintaan emas.
Kebijakan Moneter Diterapkan Amerika Serikat
Para pelaku pasar telah merevisi ekspektasi mereka terkait kebijakan moneter di Amerika Serikat. Inflasi yang terus berlanjut mengurangi kemungkinan pemangkasan suku bunga secara agresif oleh Federal Reserve (The Fed), sehingga menyebabkan imbal hasil obligasi pemerintah tetap tinggi. Kondisi ini membuat daya tarik emas batangan yang tidak memberikan bunga menjadi berkurang.
Pada hari Selasa, imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun tercatat sekitar 5 basis poin lebih tinggi, yaitu 4,384%. Beberapa analis berpendapat bahwa aksi jual yang terjadi merupakan koreksi alami setelah periode reli yang panjang, yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik serta permintaan struktural. Selama tahun lalu, harga emas mengalami kenaikan lebih dari 64 persen.
"Kenaikan harga emas yang baru-baru ini terjadi hingga mencapai level tertinggi sepanjang masa lebih dipengaruhi oleh hilangnya kepercayaan yang lebih luas ketimbang faktor inflasi, seperti defisit fiskal, fragmentasi geopolitik, dan bank sentral yang secara diam-diam mulai mendiversifikasi cadangan dari dolar," ungkap Analis Pasar eToro, Zavier Wong.
Emas Jadi Aset dengan Kinerja Terbaik
Setelah terjadinya kenaikan yang signifikan, pengurangan posisi sebagian besar tidak dapat dihindari. Emas telah menunjukkan performa yang sangat baik selama setahun terakhir, dan di saat pasar mengalami ketidakpastian, dana yang menggunakan leverage serta investor institusional biasanya cenderung untuk mengurangi eksposur mereka.
Ketika sikap investor terhadap emas mulai berubah menjadi pesimis, para analis industri umumnya tetap optimis dalam pandangan mereka untuk jangka panjang. Mereka berpendapat bahwa faktor-faktor struktural seperti risiko geopolitik, kekhawatiran mengenai kondisi fiskal, serta permintaan yang berkelanjutan dari bank sentral akan terus mendukung prospek kenaikan harga emas di masa depan.