Harga Emas Global Anjlok Akibat Penguatan Dolar AS
Harga emas spot tercatat turun sebesar 0,9 persen menjadi USD 4.777,77 per ounce.
Pada perdagangan hari Selasa, 21 April 2026, harga emas global mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi seiring dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan sikap berhati-hati para investor yang menunggu hasil pembicaraan sementara antara AS dan Iran, serta sidang konfirmasi Senat untuk calon ketua Federal Reserve (the Fed), Kevin Warsh, yang dijadwalkan berlangsung pada sore hari.
Menurut laporan dari CNBC pada Rabu, 22 April 2026, harga emas spot tercatat turun sebesar 0,9 persen menjadi USD 4.777,77 per ounce pada pukul 12.53 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Juni juga mengalami penurunan sebesar 0,7 persen menjadi USD 4.797,90.
Penguatan dolar AS membuat harga emas yang dinyatakan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
"Pasar menunjukkan keraguan mengenai kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran, terutama setelah perkembangan yang terjadi di akhir pekan dan beragam retorika yang muncul. Hal ini membuat para pelaku pasar yang optimis menjadi lebih berhati-hati dan dapat membatasi harga emas dalam kisaran yang sempit sampai ada kepastian," kata Zain Vawda, Analis dari MarketPulse by OANDA.
Ia memperkirakan bahwa harga emas akan diperdagangkan antara USD 4.750 hingga USD 4.850, dengan pergerakan di atas angka tersebut tergantung pada pengumuman yang berasal dari Timur Tengah.
Pernyataan dari AS menunjukkan keyakinan bahwa pembicaraan damai dengan Iran akan berjalan dengan lancar di Pakistan. Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa Teheran sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam pembicaraan tersebut, meskipun kementerian luar negeri Iran mengutuk AS atas apa yang mereka sebut sebagai serangan terhadap kapal dagang Iran, Touska, pada akhir pekan lalu.
Selain itu, harga minyak juga mengalami penurunan karena harapan bahwa pembicaraan damai akan meningkatkan pasokan dari wilayah penghasil minyak utama di Teluk. Namun, kekhawatiran inflasi tetap ada seiring dengan lonjakan harga minyak, yang telah meningkat sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Meskipun emas biasanya dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, permintaan untuk aset yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung menurun ketika suku bunga berada pada tingkat tinggi.
Pasar Alami Gejolak
Awal pekan ini, harga emas dunia mengalami penurunan yang signifikan. Logam mulia tersebut bahkan sempat mencapai level terendah dalam sepekan akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Penurunan harga emas ini terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak global. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan, sehingga banyak investor memilih untuk mengalihkan aset mereka.
Menurut informasi yang dilansir dari CNBC pada Selasa (21/4), harga emas spot tercatat turun sebesar 0,3% menjadi USD 4.818,03 per ons setelah sebelumnya menyentuh titik terendah sejak 13 April. Di sisi lain, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga melemah 0,8 persen menjadi USD 4.839,10 per ons.
Kenaikan nilai dolar AS menjadi salah satu penyebab utama penurunan harga emas, di mana mata uang tersebut sempat mencapai level tertinggi dalam sepekan, meskipun kemudian hanya mengalami kenaikan tipis.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Amerika Serikat mengambil alih kapal kargo milik Iran. Peristiwa ini memicu kekhawatiran akan kemungkinan gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara. Dampaknya terasa langsung di pasar energi, di mana harga minyak melonjak sekitar 5% akibat kekhawatiran gangguan pasokan, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Daya Tarik Emas Semakin Menurun
Menurut analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, situasi saat ini memberikan tekanan lebih besar terhadap harga emas. "Situasi di Timur Tengah jelas kembali meningkat, sehingga proyeksi harga emas kami sedikit condong ke arah penurunan di tengah meningkatnya risiko lonjakan tajam harga minyak, yang dapat mendorong dolar dan imbal hasil obligasi lebih tinggi," ujarnya.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun juga berkontribusi pada berkurangnya daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, dalam kondisi suku bunga global yang tinggi, ketertarikan terhadap emas sebagai pelindung nilai inflasi semakin menurun.
Diperkirakan, suku bunga akan tetap tinggi lebih lama jika tekanan inflasi terus meningkat akibat konflik geopolitik yang sedang berlangsung.