Harga Emas Rabu 20 Mei 2026, Perkasa Merespons Positif Harapan Penyelesaian Konflik Timur Tengah
Analis menyatakan bahwa penyelesaian konflik di Iran dan pembukaan Selat Hormuz memberikan dampak positif terhadap harga emas.
Harga emas dunia mengalami peningkatan sebesar 1%. Kenaikan ini dipicu oleh harapan akan penyelesaian konflik di Iran yang berpotensi menekan pasar minyak, Rabu (20/5).
Sentimen positif ini juga meredakan kekhawatiran terkait inflasi dan menyebabkan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dari level tertinggi yang baru-baru ini tercatat. Mengutip CNBC pada hari yang sama, harga emas di pasar spot tercatat naik 1% menjadi USD 4.532,72 per ounce, setelah sebelumnya mencapai titik terendah dalam lebih dari tujuh minggu. Selain itu, harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga mengalami kenaikan sebesar 0,5% menjadi USD 4.535,30.
"Kita telah melihat jeda dari peningkatan imbal hasil yang berkelanjutan. Akibatnya, kita telah melihat harga emas menguat dari titik terendah baru-baru ini," ujar Direktur Perdagangan High Ridge Futures.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sedikit mengalami penurunan setelah mencapai level tertinggi sejak Januari 2025 pada hari Selasa sebelumnya. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah biasanya meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
"Segala jenis penyelesaian perang dan pembukaan Selat Hormuz akan menjadi hal positif bagi pasar emas karena ekspektasinya adalah suku bunga akan turun, dan karenanya akan menjadi peluang dan bermanfaat bagi emas," tambah Meger.
ementara itu, harga minyak Brent mengalami penurunan setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir. Namun, investor tetap bersikap hati-hati terhadap hasil pembicaraan damai, mengingat gangguan pasokan di Timur Tengah masih berlangsung.
Kenaikan biaya bahan bakar dapat memicu inflasi, yang pada gilirannya memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi. Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, performanya cenderung buruk dalam lingkungan suku bunga yang tinggi.
Saat ini, investor memperkirakan peluang 48,6% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember, dan peluang 89,6% bahwa mereka akan mempertahankan suku bunga saat ini pada pertemuan berikutnya di bulan Juni, menurut alat FedWatch CME.
Harga Emas Turun
Sebelumnya, harga emas global mengalami penurunan sebesar 2% pada perdagangan hari Selasa. Kekuatan mata uang dolar AS dan kekhawatiran mengenai inflasi yang berkepanjangan semakin meningkatkan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga acuan, yang pada gilirannya mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) ke level yang lebih tinggi.
Menurut laporan yang dikutip dari CNBC pada Rabu (20/5), harga emas di pasar spot turun 2% menjadi USD 4.474,40 per ons. Pada awal sesi perdagangan, harga logam mulia ini bahkan sempat mencapai level terendahnya sejak akhir Maret lalu. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan Juni juga mengalami penurunan sebesar 1,8% ke posisi USD 4.476,80.
Kenaikan Suku Bunga Global Jadi Beban Utama
Edward Meir, seorang analis dari Marex, menjelaskan bahwa penurunan harga emas kali ini disebabkan oleh pergerakan suku bunga yang meningkat secara bersamaan di berbagai negara.
"Kita sedang melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara di seluruh dunia, dan hal itulah yang paling membebani emas saat ini. Dolar AS yang semakin kuat juga memberikan dampak negatif," ungkap Edward Meir.
Saat ini, imbal hasil obligasi 10-tahun AS berada di dekat level tertinggi dalam setahun terakhir, bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS. Kedua instrumen ini mengalami lonjakan seiring dengan antisipasi investor terhadap kemungkinan perubahan kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang cenderung lebih ketat (hawkish) untuk meredam inflasi akibat lonjakan harga energi.
Lonjakan Harga Minyak Dunia Picu Efek Domino
Tingginya imbal hasil obligasi secara otomatis meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas, mengingat komoditas ini tidak memberikan imbal hasil atau bunga. Selain itu, penguatan dolar AS membuat komoditas yang dihargai dengan mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemilik mata uang lainnya.
Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis Brent tetap bertahan di level tinggi. Hal ini semakin memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi global akibat meningkatnya biaya bahan bakar.
Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, memberikan pandangannya tentang prospek emas jangka pendek: "Meskipun alasan struktural untuk berinvestasi pada emas sebagian besar tetap utuh, perkembangan makroekonomi jangka pendek telah menciptakan latar belakang yang lebih menantang bagi pergerakan harga," tulis Ole Hansen.
"Begitu tekanan langsung terkait sektor energi mulai mereda, permintaan dari bank sentral mungkin akan muncul kembali sebagai penggerak utama pasar," tambahnya. Saat ini, perhatian investor global tertuju pada rilis notulen rapat kebijakan (minutes of meeting) The Fed yang dijadwalkan keluar pada hari Rabu, untuk memahami arah kebijakan moneter AS ke depan.
Pergerakan logam mulia lainnya juga menunjukkan dampak negatif akibat kejatuhan harga emas. Harga perak anjlok 5,7% ke level USD 73,25 per ons. Selain itu, harga platinum merosot 2,8% ke posisi USD 1.923,55 per ons, sementara harga palladium jatuh 3,3% ke angka USD 1.371,25 per ons. Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar logam berharga lainnya terpengaruh oleh tren negatif yang sama yang dialami oleh emas.