Menteri Pigai Buka Kelas Jurnalis HAM: 80 Persen Isi Media Didominasi Pemberitaan Negatif
"Hampir juga lebih dari 50 persen media didominasi oleh berita-berita subjektif," sambungnya.
Menteri Hak Asasi Manusia (MenHAM) Natalius Pigai meminta media massa untuk tetap mengedepankan kritik yang objektif serta tidak didominasi pemberitaan negatif.
Hal ini disampaikan Pigai saat membuka acara Kelas Jurnalis HAM di The Green Forest Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/5).
Apa yang disampaikan oleh Pigai itu berdasarkan hasil penelitiannya bahwa sebagian besar isi media masih didominasi konten yang negatif.
"Hasil penelitian, berbagai penelitian di seluruh dunia telah menyatakan bahwa hampir 80 persen konten, isi media didominasi oleh pemberitaan negatif," kata Pigai.
"Hampir juga lebih dari 50 persen media didominasi oleh berita-berita subjektif," sambungnya.
Kondisi tersebut disebutnya tidak sepenuhnya bisa disalahkan, terutama ketika media dimiliki kelompok berkepentingan atau korporasi besar.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya integritas pekerja media dalam menjaga kualitas pemberitaan.
"Kami membutuhkan integritas kalau tanpa media tidak mungkin dunia ini berwarna. Tanpa media tidak mungkin bisa ada check and balance system terhadap kekuasaan," sebutnya.
Pigai menilai, media memiliki posisi penting sebagai pengawas pembangunan sekaligus penyampai kritik terhadap pemerintah. Namun, kritik yang disampaikan harus tetap objektif dan konstruktif.
"Media harus mampu memberi kritik yang objektif. Subjektif tidak apa-apa, tapi tidak boleh sebagaimana hasil penelitian yang lebih dari 80 persen kontennya adalah konten negatif atau konten negatif atau konten buruk," ujarnya.
Teori Psikologi
Dalam kesempatan itu, Pigai juga menyinggung teori psikologi terkait kecenderungan manusia lebih tertarik pada informasi negatif. Ia menyebut, pikiran negatif diproses dalam bagian kecil otak bernama amigdala.
"Saya ingin para jurnalis tidak harus selalu berita itu hanya diproses dalam satu sel kecil yang namanya amigdala tersebut, tapi harus diproses dalam otak yang lebih besar," tuturnya.
Bad News is a Good News
Dunia jurnalistik menurutnya selama ini terlalu dipengaruhi adagium bad news is good news atau berita buruk dianggap lebih menarik perhatian publik.
"Sudah terdoktrin di mana-mana. Kalau berita negatif itulah pasti banyak orang akan baca. Kalau berita yang tidak baik itulah pasti banyak orang yang bisa baca," pungkasnya.