Harga Emas Terus Anjlok Imbas Kebijakan Tarif Impor Donald Trump
Untuk jangka menengah hingga panjang, harga emas dunia masih berpotensi mengalami kenaikan signifikan.
Analis sektor keuangan emas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan kebijakan tarif terbaru yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, turut menjadi salah satu faktor utama yang memicu pelemahan harga emas dunia dalam beberapa waktu terakhir.
Mengutip data dari Bloomberg pada 7 April 2025 pukul 10.23 WIB, harga emas dunia tercatat mengalami penurunan sebesar USD3.030,72 per ons, atau turun sekitar 7,52 poin atau setara dengan 0,25 persen.
Menurut Ibrahim, pergerakan harga emas dunia pada perdagangan pagi ini memang cenderung fluktuatif. Meskipun sempat mengalami pelemahan signifikan hingga menyentuh level USD 2.966 per ons, harga emas kembali berhasil menguat ke level USD 3.029 per ons. Namun, tetap ada kekhawatiran bahwa harga emas masih berpotensi kembali melemah dalam waktu dekat.
"Harga emas dunia dalam perdagangan pagi ini ya berpluktuatif walaupun sempat mengalami pelemahan ya yang cukup signifikan di 2.966 tetapi saat ini kembali menguat di 3.029. Ada harapan bahwa harga emas dunia ini masih akan turun," kata Ibrahim dalam keterangan resminya, Senin (7/4).
Salah satu penyebab dari potensi penurunan harga emas ini, lanjut Ibrahim, adalah langkah para investor besar atau fund-fund di Amerika dan Eropa yang saat ini ramai-ramai menarik dananya dalam jumlah besar.
Dana tersebut kemudian dialihkan dalam bentuk uang tunai sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian global. Ketakutan utama para investor saat ini adalah kekhawatiran bahwa perang dagang yang sedang berlangsung dapat memperlambat laju pertumbuhan ekonomi global.
"Ada ketakutan besar bahwa perang dagang ini akan membuat ekonomi global mengalami perlambatan ekonomi," jelas dia.
Di sisi lain, kondisi politik dalam negeri AS juga semakin memanas. Ibrahim menjelaskan gelombang demonstrasi terjadi di berbagai negara bagian di Amerika, sebagai bentuk penolakan masyarakat terhadap kebijakan Trump yang memangkas berbagai anggaran pemerintahan.
Situasi ini dinilai memperburuk tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Trump, sehingga menciptakan ketidakpastian dan kekhawatiran akan terjadinya kekacauan politik di Negeri Paman Sam tersebut.
"Masyarakat di semua negara bagian ya di Amerika Serikat melakukan demonstrasi ya menentang apa menentang Trump yang telah mengurangi ya anggaran-anggaran dalam pemerintahan maupun yang lainnya yang membuat percayaan masyarakat ya secara luas di Amerika terhadap Trump menjadi buruk dan ini yang membuat ada ketakutan akan menjadi keos. Nah ini pun juga sebenarnya yang membuat harga emas sedikit redup," paparnya.
Namun demikian, Ibrahim menegaskan untuk jangka menengah hingga panjang, harga emas dunia masih berpotensi mengalami kenaikan signifikan.
Menurutnya, bukan tidak mungkin harga emas bisa kembali menembus level USD 3.200 per ons, didorong oleh ketegangan perang dagang yang masih berlangsung dan kondisi geopolitik global yang belum stabil.
"Nah tetapi harus diingat bahwa secara jangka menengah jangka panjang harga emas dunia itu masih akan tetap mengalami kenaikan ada kemungkinan besar kembali ke 3.200 ya sebagai pendorong itu adalah tentang perang dagang dan permasalahan geopolitik," paparnya.
Lebih lanjut, dia menyebutkan penurunan harga emas dunia baru-baru ini juga dipengaruhi oleh rilis data tenaga kerja AS yang hasilnya jauh lebih baik dari perkiraan sebelumnya.
Hal ini memperkuat spekulasi bahwa The Federal Reserve kemungkinan besar tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, mengingat tingkat inflasi yang masih tinggi serta tensi perang dagang yang belum mereda.
"Bank Sentral Amerika pun juga kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunga dengan waktu yang cukup lama ya karena inflasi yang tinggi dan masalah perang dagang yang masih berkecamuk. Nah artinya apa bahwa The Fed sendiri sampai saat ini masih terus menunggu ya tentang perkembangan dari perang dagang tersebut," Ibrahim mengakhiri.