Harga Emas Dunia Besok Diramal Kembali Naik, Segini Harganya
Ibrahim menilai pasar masih berhati-hati, terutama karena sentimen makroekonomi global belum memberikan arah yang jelas.
Harga emas dunia pada Sabtu pagi (15/11) tercatat berada di level USD 4.084, sementara logam mulia domestik ditutup pada Rp 2.353.000 per gram.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan pada awal pekan depan berpotensi menguji area kritis. Menurutnya, jika terjadi penguatan di hari Senin, harga emas global berpeluang naik menuju resisten pertama di USD 4.166, dan logam mulia bisa ikut menguat ke level Rp 2.378.000.
"Kalau seandainya mengalami kenaikan ya resisten pertama itu di hari Senin itu kemungkinan di USD 4.166, logam mulianya itu di Rp 2.378," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (16/11/2025).
Kendati demikian, ruang kenaikan diprediksi tidak terlalu besar. Ibrahim menilai pasar masih berhati-hati, terutama karena sentimen makroekonomi global belum memberikan arah yang jelas. Dengan kondisi tersebut, kenaikan pada hari Senin kemungkinan tertahan sebelum menuju target resisten kedua.
Adapun untuk potensi penurunan, support pertama berada di level USD 3.996 atau sekitar Rp 2.338.000 untuk logam mulia. Level ini dipandang sebagai batas awal sebelum tekanan jual semakin kuat. Jika menembusnya, pasar berpotensi bergerak ke area support yang lebih rendah.
"Kemudian kalau seandainya turun ya itu support pertama di USD 3.996 untuk logam mulianya di Rp 2.338.000," ujarnya.
Sentimen AS Jadi Penentu
Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan pergerakan emas awal pekan juga akan dipengaruhi dinamika politik dan ekonomi Amerika Serikat. Ia menjelaskan, penurunan harga emas pada penutupan pekan ini dipicu oleh dua faktor utama.
Pertama, pengesahan RUU pendanaan oleh Donald Trump yang baru akan berlaku mulai Senin depan. Hal ini mengakhiri masa libur pemerintahan federal yang sebelumnya menghambat aktivitas ekonomi.
Kedua, sejumlah data ekonomi penting AS, seperti inflasi dan pengangguran, gagal dirilis pada Jumat karena pemerintahan masih dalam masa libur. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian baru karena pasar kehilangan acuan utama untuk menilai arah kebijakan moneter The Fed. Apalagi, libur pemerintahan AS kali ini menjadi yang terlama, yakni mencapai 45 hari.
"Bank Sentral ini masih memikirkan untuk menurunkan suku bunga di bulan Desember ya bahkan Kaskari sendiri salah satu Gubernur Bank Sentral yang menolak penurunan suku bunga di bulan sebelumnya," ujarnya.
Prospek Minggu Depan
Untuk periode sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan pergerakan harga emas akan penuh fluktuasi. Jika tekanan jual berlanjut, support kedua diproyeksikan berada di USD 3.900, dengan logam mulia domestik bisa turun hingga Rp 2.298.000.
Namun jika ada momentum penguatan, resisten kedua berada di USD 4.243 atau sekitar Rp 2.438.000. Meskipun secara teori potensi kenaikan tersebut terbuka, Ibrahim melihat target Rp 2.450.000 per gram masih sulit ditembus dalam waktu dekat.
"Ada kemungkinan dalam Minggu depan untuk mencapai level Rp 2.450.000 sepertinya berat hanya mentok di level Rp 2.438.000 tetapi tentatif kemungkinan akan ada perubahan ya kalau seandainya nanti terkena di hari Rabu di hari Rabu malamnya kemungkinan akan membuat update ulang kembali," pungkasnya.