AI Ubah Peran Desainer, Bukan Hanya Urusan Estetika tapi Lebih Strategis
Kemampuan berpikir strategis dan memahami bisnis menjadi nilai utama yang dicari industri.
Dean School of Design BINUS University, Danendro Adi menilai perkembangan artificial intelligence (AI) generatif telah mengubah peran desainer di industri kreatif.
Jika sebelumnya desain lebih banyak dipandang sebagai urusan estetika, kini kemampuan berpikir strategis dan memahami bisnis menjadi nilai utama yang dicari industri.
AI, lanjut dia, membuat produksi aset visual menjadi lebih cepat sehingga peran desainer tidak lagi sekadar membuat karya visual. Maka, nilai seorang desainer semakin ditentukan oleh kemampuannya berpikir, memimpin proses kreatif, dan mengambil keputusan yang berdampak pada bisnis.
“Kami mendidik desainer yang bisa menjelaskan mengapa sebuah keputusan kreatif akan memberikan solusi dari sebuah permasalahan, bukan hanya membuatnya terlihat bagus,” ujar Danendro dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Bagaimana Masa Depan Industri Kreatif?
Pertumbuhan industri kreatif mencatat pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhan PDB mencapai 6,57 persen pada 2024, melampaui PDB nasional, dengan nilai ekspor produk kreatif mencapai USD 26,68 miliar dalam sepuluh bulan pertama 2025.
Kemudian, pasar platform digital diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 25,05 persen hingga 2032.
Sayangnya, industri menghadapi tantangan yang semakin mendesak untuk mencari talenta desainer yang tidak hanya terampil menggunakan alat, tetapi mampu menerjemahkan riset pengguna menjadi solusi bisnis.
Berkolaborasi lintas disiplin dengan pengembang dan pemasar, serta memimpin keputusan kreatif dengan argumentasi yang kuat.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, School of Design BINUS University menerapkan pendekatan project-based learning yang membuat mahasiswa mengerjakan proyek nyata sejak awal perkuliahan.
Mahasiswa dilibatkan dalam pembuatan identitas visual, pengembangan antarmuka pengguna, produksi animasi dan film, hingga proyek kolaborasi industri yang langsung masuk ke pasar.
BINUS juga mulai mengintegrasikan AI dalam proses pembelajaran agar mahasiswa terbiasa bekerja menggunakan standar industri kreatif global.
Pendekatan tersebut turut mendorong School of Design BINUS University meraih posisi kedua di Indonesia pada indikator Employer Reputation dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Art & Design.
Indikator itu mengukur tingkat kepercayaan industri terhadap kualitas lulusan berdasarkan survei kepada pemberi kerja dan pemimpin industri di berbagai negara.
“Kepercayaan industri tidak bisa dibeli dengan kampanye. Ia dibangun dari kualitas lulusan yang terbukti, tahun demi tahun,” kata Danendro.