Indonesia Butuh Talenta Digital AI yang Andal dan Beretika
Teknologi hanyalah sarana, kemajuan sebenarnya ditentukan manusia. Mereka dianggap mampu memanfaatkannya secara bijak, beretika, dan berdampak bagi sesama.
Pergeseran besar tengah terjadi di dunia pendidikan dan industri. Artificial intelligence tak lagi sekadar teknologi masa depan, namun menjadi dasar cara kerja baru di berbagai sektor.
Dunia kampus punya andil di dalamnya, menjadikan SDM yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Hal itu dikatakan Rektor Binus University, Nelly. Kata dia, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjembatani dunia akademik dengan realitas industri yang berubah cepat.
“Kami ingin melahirkan generasi yang tidak sekadar memahami AI, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menciptakan solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Pihaknya memandang kerja sama lintas sektor merupakan cara konkret membangun sumber daya manusia. Bukanya hanya mampu beradaptasi, melainkan beretika dalam menggunakannya.
Butuh 9 Juta Talenta Digital
Oleh sebab itu, pihaknya bersama Microsoft meluncurkan program pelatihan skala nasional, Microsoft Elevate.
Program ini diklaim menjawab kebutuhan mendesak talenta AI di Indonesia dengan menyiapkan 50.000 pembelajar dengan menggunakan platform GreatNusa.
Mengutip data PWC 2024, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 9 juta tenaga kerja digital-ready pada tahun 2030.
Terlebih, menurut data tersebut, 76 persen pekerja di Indonesia merasa peran mereka berubah signifikan dalam lima tahun terakhir.
Teknologi Cuma Alat
Kendati begitu, Nita Felia Pambudi, Chief Operating Officer GreatNusa menekankan bahwa AI seharusnya memperkuat peran manusia, bukan menggantikannya.
“Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah kemajuan adalah manusia yang menggunakannya dengan bijak,” ungkap dia dalam keterangan resminya, Sabtu (1/11).