BEM Mahasiswa Ingatkan Pentingnya Menjaga Persatuan di Era Informasi Digital
Menurutnya, penguatan literasi hukum dan politik menjadi bekal penting agar mahasiswa tidak mudah terjebak dalam narasi yang berpotensi menimbulkan perpecahan.
Sejumlah pimpinan organisasi mahasiswa menyerukan pentingnya menjaga persatuan sekaligus memperkuat peran strategis mahasiswa di tengah dinamika geopolitik global dan derasnya arus informasi digital.
Seruan tersebut disampaikan dalam forum Konsolidasi dan Diskusi Kebangsaan bertajuk "Merawat Persatuan, Menjaga Indonesia: Suara Pemuda di Tengah Krisis Global", yang mempertemukan berbagai elemen mahasiswa lintas organisasi.
Dalam forum tersebut, Bendahara Umum Presidium Nasional Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), Tirta Gangga Listiawan, menekankan pentingnya kedewasaan dalam menyikapi isu publik. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai, melainkan mampu memahami substansi persoalan secara komprehensif.
"Mahasiswa perlu memahami posisi Undang-Undang Dasar sebagai norma dasar, sehingga tidak turut menggiring opini tanpa memahami mekanisme konstitusi secara utuh," ujarnya.
Penguatan Literasi
Menurutnya, penguatan literasi hukum dan politik menjadi bekal penting agar mahasiswa tidak mudah terjebak dalam narasi yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Ia juga menggarisbawahi bahwa stabilitas nasional memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor kehidupan.
"Ketika persatuan terganggu, dampaknya dapat meluas—mulai dari investasi, kondisi ekonomi, hingga stabilitas negara secara keseluruhan,” tuturnya.
Pandangan serupa disampaikan Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, yang menilai bahwa situasi geopolitik global saat ini turut memengaruhi kondisi domestik, termasuk sektor ekonomi. Ia mengajak mahasiswa untuk berperan sebagai jembatan informasi yang mencerahkan masyarakat.
"Perkembangan geopolitik dunia berdampak langsung pada kita, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan seperti BBM. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan hal ini kepada masyarakat, dengan tetap menjaga sikap kritis terhadap kebijakan," jelasnya.
Menyikapi Informasi
Ia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, kemampuan verifikasi menjadi kunci agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi.
"Perlu kehati-hatian agar kita tidak mudah terpecah oleh narasi yang belum jelas kebenarannya. Verifikasi informasi menjadi langkah yang sangat penting,” tambahnya.
Sementara itu, Koordinator Nasional BEM PTMAI, Yogi Syahputra Alaydrus, menekankan bahwa persatuan perlu diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata, tidak berhenti pada tataran wacana.
“Persatuan bukan sekadar kebersamaan secara simbolik, melainkan bagaimana kita menjaga kesatuan dengan berlandaskan konstitusi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap ketimpangan pembangunan antarwilayah sebagai bagian dari agenda kebangsaan. Dalam pandangannya, mahasiswa perlu tetap kritis, namun juga mampu melihat kebijakan secara proporsional.
“Kebijakan pada dasarnya diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan. Oleh karena itu, sikap kritis perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap konteks yang lebih luas,” katanya.
Kemampuan berpikir
Para narasumber sepakat bahwa kekuatan utama mahasiswa terletak pada persatuan dan kemampuan berpikir kritis. Dengan keduanya, mahasiswa dinilai dapat berkontribusi secara konstruktif dalam menjaga arah kehidupan berbangsa.
“Ketika persatuan terjaga, kekuatan kolektif akan terbentuk. Namun sebaliknya, jika terpecah, upaya memperjuangkan kepentingan masyarakat akan menjadi lebih sulit,” katanya.