Harga Emas Dunia Diprediksi Menguat, Ini Pemicunya
Sentimen global yang tidak stabil dan eskalasi geopolitik menjadi faktor utama yang menopang kenaikan harga logam mulia tersebut.
Harga emas dunia diperkirakan masih akan melanjutkan tren penguatan pada pekan ini.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen global yang tidak stabil dan eskalasi geopolitik menjadi faktor utama yang menopang kenaikan harga logam mulia tersebut.
Menurut Ibrahim, dalam perdagangan Senin (13/10), level support harga emas diprediksi berada di USD 3.987 per troy ons, sedangkan level resistance diperkirakan menembus USD 4.059.
“Ada kemungkinan besar harga emas dunia pada perdagangan hari Senin support-nya di USD 3.987 dan resistance-nya di USD 4.059,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (13/10).
Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi ke level USD 3.944 per troy ons akibat adanya gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza. Namun, menurut Ibrahim, koreksi tersebut hanya bersifat sementara.
“Walaupun sempat turun karena gencatan senjata di Gaza, koreksi itu hanya sesaat karena fund besar melakukan aksi ambil untung dan kemudian kembali masuk ke pasar,” jelasnya.
Ia menambahkan, aksi beli besar-besaran dari pelaku pasar membuat harga emas kembali naik dengan potensi taking profit di kisaran USD 4.100 per troy ons.
Geopolitik Masih Jadi Pendorong Utama
Ibrahim menilai, situasi politik global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan harga emas. Selain konflik di Timur Tengah, ketegangan di Eropa juga terus memanas.
“Setelah mundurnya Perdana Menteri Prancis, situasi politik di Eropa ikut memanas. Sementara di Ukraina, Rusia justru memperluas wilayah kekuasaannya sekitar 5.000 kilometer persegi, termasuk di Luhansk dan Donetsk,” jelas Ibrahim.
Ia menilai konflik antara Rusia dan Ukraina kemungkinan besar akan terus berkecamuk, meski mantan Presiden AS Donald Trump telah menyerukan gencatan senjata.
“Ukraina tidak mau berhenti perang jika wilayah yang sudah dikuasai Rusia seperti Krimea dan Donetsk tidak dikembalikan. Ini yang membuat tensi terus tinggi,” tambahnya.
Ketidakpastian Fiskal AS Tambah Tekanan Global
Selain geopolitik, ketidakpastian fiskal Amerika Serikat juga menjadi faktor penopang kenaikan harga emas.
Ibrahim mengungkapkan, sejumlah negara bagian di AS mulai menghadapi tekanan ekonomi akibat perang dagang dan potensi shutdown pemerintahan federal.
“Dari 50 negara bagian di Amerika, sekitar 20 sudah memasuki kondisi krisis ekonomi. Bahkan beberapa teritorial besar juga mengalami tekanan fiskal,” ujarnya.
Kondisi ini, menurut Ibrahim, meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi AS dan mendorong mereka beralih ke aset aman seperti emas.
“Ketidakpastian fiskal dan meningkatnya pengangguran di AS membuat emas tetap menjadi aset lindung nilai utama,” tutup Ibrahim.