Harga Emas Dunia Capai USD 3.790, Diprediksi akan Terus Naik
Harga emas global mencapai puncak tertinggi dalam seminggu di angka USD 3.790 per ons.
Harga emas global tetap menunjukkan daya tahan yang kuat meskipun pasar mengalami berbagai dinamika. Dalam pekan terakhir bulan September 2025, logam mulia ini berhasil mempertahankan tren penguatannya dan bahkan mencatat rekor tertinggi mingguan.
Berdasarkan informasi dari Kitco News, pada hari Minggu (28/9/2025), harga emas spot dibuka di angka USD 3.687,74 per ons dan sempat menembus angka USD 3.700. Penguatan harga berlanjut di sesi perdagangan Asia dan Eropa, sehingga ketika sesi perdagangan di Amerika Utara dibuka, harga emas telah naik menjadi USD 3.717 per ons. Momentum penguatan ini terus berlanjut hingga penutupan bursa, di mana harga emas ditutup di level USD 3.745 per ons.
Meskipun upaya untuk menembus level USD 3.760 per ons sempat terhambat, harga emas tetap menunjukkan penguatan mendekati USD 3.790 per ons, yang merupakan level tertinggi dalam sepekan. Kondisi ini menimbulkan optimisme baru di kalangan analis mengenai prospek jangka pendek untuk emas.
Sentimen di kalangan analis tetap positif dan bullish. Survei mingguan dari Kitco News menunjukkan bahwa mayoritas analis di Wall Street masih optimis mengenai harga emas. Dari total 19 analis yang berpartisipasi, sebanyak 84% memprediksi bahwa harga emas akan mengalami kenaikan pada pekan depan, sementara sisanya memperkirakan pergerakan harga akan cenderung sideways.
"Emas masih dalam tren naik sekuler terhadap semua mata uang," ungkap Darin Newsom, Analis Pasar Senior di Barchart.com. Pernyataan tersebut menunjukkan keyakinan yang kuat bahwa harga emas akan terus menunjukkan kinerja yang baik di masa mendatang.
Meskipun sudah berada dalam kondisi overbought, kekuatan tetap terjaga
Pandangan yang serupa juga diungkapkan oleh Rich Checkan, yang menjabat sebagai Presiden dan COO di Asset Strategies International. Ia menegaskan bahwa tren permintaan emas tetap solid, meskipun ada anggapan bahwa logam mulia ini telah memasuki fase overbought.
"Dengan adanya ancaman penutupan pemerintah AS dan meningkatnya tagihan pengeluaran, saya memperkirakan harga emas akan mengalami kenaikan lagi pada minggu depan," ungkapnya.
Adrian Day, yang merupakan Presiden Adrian Day Asset Management, menilai bahwa meskipun data mengenai belanja konsumen dan inflasi terbaru tidak mendukung, terdapat faktor lain yang masih memberikan dorongan positif. "Narasi ekonomi AS dan laju penurunan suku bunga tampaknya kurang berpengaruh terhadap harga emas dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya," jelasnya.
Di sisi lain, Kevin Grady, Presiden Phoenix Futures and Options, menekankan bahwa penguatan harga emas juga dipengaruhi oleh melemahnya nilai dolar AS. "Pasar merespons perubahan suku bunga dan seberapa besar penurunan yang akan terjadi. Namun, saya percaya bahwa lemahnya dolar menjadi faktor utama yang mendorong harga emas," tuturnya.
Dukungan dari investor ritel
Survei online yang dilakukan oleh Kitco melibatkan 265 investor ritel dan menunjukkan adanya sentimen yang positif. Dari hasil survei tersebut, sebanyak 63% responden memperkirakan bahwa harga emas akan mengalami kenaikan, sementara 21% lainnya mengantisipasi penurunan harga, dan 16% sisanya berpendapat bahwa harga emas akan bergerak dalam kisaran yang stabil.
Pekan depan, perhatian pasar akan tertuju pada berbagai rilis data ekonomi dari Amerika Serikat. Agenda dimulai dengan laporan Pending Home Sales pada hari Senin, kemudian dilanjutkan dengan JOLTS Job Openings dan Consumer Confidence pada hari Selasa. Pada hari Rabu, pasar akan mencermati ADP Nonfarm Payrolls dan ISM Manufacturing PMI. Hari Kamis, laporan mengenai klaim pengangguran mingguan akan dirilis, sebelum puncak perhatian beralih kepada laporan Nonfarm Payrolls untuk bulan September yang akan diumumkan pada Jumat pagi.
Data-data tersebut dianggap krusial karena dapat memberikan gambaran mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga tambahan oleh The Fed pada bulan Oktober. Rangkaian agenda ekonomi ini akan ditutup dengan rilis ISM Services PMI, yang juga akan memberikan wawasan lebih lanjut mengenai kondisi sektor jasa di AS. Dengan begitu, pelaku pasar akan sangat memperhatikan setiap rilis data ini untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.