AS-Iran Sepakat Hentikan Perang, Harga Emas Dunia Diprediksi Bakal Naik
Pembukaan kembali Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan damai AS-Iran menjadi katalis positif bagi pasar komoditas global, khususnya emas.
Harga emas diperkirakan kembali menguat dalam waktu dekat seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pembukaan kembali Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan damai AS-Iran menjadi katalis positif bagi pasar komoditas global, khususnya emas.
Menurut Ibrahim, harga emas berpotensi melanjutkan penguatan dan bahkan menembus level USD 4.875 per troy ounce pada bulan ini. Proyeksi tersebut didukung oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap stabilitas ekonomi global di tengah berkurangnya risiko konflik di kawasan Timur Tengah.
"Perjanjian damai antara AS dan Iran serta pembukaan selat Hormuz membuat harga emas kembali berkilau, diperkirakan bulan ini akan menuju USD 4,875 per troy ounce," kata Ibrahim kepada media, Senin (15/6).
Sebelumnya, Ibrahim menjelaskan pada perdagangan Sabtu pagi kemarin, harga emas dunia ditutup di level USD 4.209 per troy ounce, sedangkan harga logam mulia berada di Rp 2.711.000 per gram.
Secara teknikal, Ibrahim menyebut apabila harga emas dunia mengalami koreksi, support pertama berada di USD 4.058 per troy ounce dengan harga logam mulia Rp 2.690.000 per gram. Sementara support kedua berada di USD 3.929 per troy ounce dan logam mulia Rp 2.500.000 per gram.
Sebaliknya, apabila harga emas dunia menguat, resistance pertama berada di USD 4.394 per troy ounce dengan harga logam mulia Rp 2.740.000 per gram. Adapun resistance kedua berada di USD 4.571 per troy ounce dengan harga logam mulia Rp 2.880.000 per gram.
Rupiah Menguat, Kesepakatan Damai AS-Iran Beri Sentimen Positif
Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal pekan dengan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Senin (15/6) pagi, rupiah tercatat menguat 82 poin atau sekitar 0,46 persen menjadi Rp17.778 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.860 per dolar AS.
Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global yang dipicu perkembangan terbaru hubungan AS dan Iran. Harapan tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara dinilai mampu meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini membayangi pasar keuangan dunia.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan optimisme perdamaian di Timur Tengah mendorong pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko atau risk-on. Kondisi tersebut turut menekan indeks dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
"Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah memicu sentimen risk-on dan penurunan pada harga minyak mentah dunia. Indeks dolar AS turun oleh laporan bahwa kesepakatan damai antara AS-Iran telah tercapai," ujarnya dikutip dari Antara.