Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran Akan Ditandatangani Hari Ini, Selat Hormuz Siap Kembali Dibuka
Sejak gencatan senjata pada 8 April menghentikan fase terburuk pertempuran, Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah dekat.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah akan ditandatangani pada Minggu (14/6) ini. Trump juga mengatakan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia, akan kembali dibuka untuk semua pihak segera setelah perjanjian tersebut disahkan.
Sebelumnya, Iran menyampaikan jadwal yang berbeda terkait penandatanganan kesepakatan tersebut. Meski demikian, Teheran tetap memberi sinyal bahwa perjanjian damai semakin dekat, seiring meningkatnya optimisme dari kedua pihak yang bertikai maupun para mediator bahwa negosiasi yang berlangsung selama beberapa pekan akhirnya mendekati penyelesaian.
Perkembangan positif ini terjadi meskipun bentrokan baru masih terjadi di kawasan Selat Hormuz. Iran diketahui telah memblokade jalur tersebut sejak awal konflik, yang menyebabkan gejolak di pasar global dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
"Kesepakatan dijadwalkan untuk ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz akan terbuka untuk semua," tulis Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Sabtu (13/6), sebagaimana dikutip dari Arab News, Minggu (14/6).
Sejak gencatan senjata pada 8 April menghentikan fase terburuk pertempuran, Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah dekat. Namun, proses negosiasi terus mengalami hambatan sehingga penyelesaiannya tertunda.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei mengatakan pada Sabtu (13/6) bahwa tanggal penandatanganan masih belum ditetapkan dan "tidak akan dilakukan besok".
Meski demikian, Baqaei menambahkan bahwa kemungkinan kesepakatan tersebut tercapai dalam beberapa hari ke depan tetap terbuka.
Sementara itu, Pakistan yang menjadi salah satu mediator utama dalam proses perdamaian juga menyatakan bahwa kesepakatan kini semakin dekat.
"Finalisasi perjanjian kemungkinan akan terjadi dalam 24 jam ke depan. Pakistan sedang mempersiapkan proses penandatanganan elektronik perjanjian damai, yang akan dilanjutkan dengan pembicaraan tingkat teknis pekan depan," kata Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan juga menyebutkan bahwa penandatanganan kesepakatan direncanakan berlangsung pada Minggu (14/6).
Meski demikian, kedua pihak terlibat konflik masih memberikan informasi yang berbeda mengenai isi perjanjian tersebut. Masing-masing berupaya menunjukkan bahwa mereka keluar dari konflik dengan posisi yang lebih menguntungkan.
Iran Tegaskan Tetap Kendalikan Selat Hormuz, AS Klaim Tembak Jatuh Drone Serang
Iran menegaskan akan tetap mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Sejak memberlakukan blokade di wilayah tersebut, Teheran mewajibkan setiap kapal melintas untuk memperoleh izin dari angkatan bersenjatanya. Iran juga telah membentuk badan baru bertugas mengawasi lalu lintas di Selat Hormuz sekaligus memungut biaya transit.
Sebagai respons, Amerika Serikat menerapkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Sebelumnya pada Sabtu (13/6), Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa Iran telah 'meluncurkan sejumlah drone serang satu arah dalam upaya menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.'
CENTCOM menambahkan bahwa pasukan AS berhasil menembak jatuh seluruh drone tersebut dalam beberapa jam terakhir.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dalam wawancara dengan televisi pemerintah pada Jumat (12/6) mengatakan bahwa rancangan kesepakatan yang sedang dibahas mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran.
Dia juga menegaskan bahwa "pengelolaan Selat Hormuz tidak akan lagi sama seperti sebelumnya," seraya menyebut jalur pelayaran tersebut sebagai salah satu "instrumen utama daya tangkal" Iran.
Pemerintah AS berulang kali menyatakan bahwa Iran tetap menguasai Selat Hormuz merupakan kondisi yang tidak dapat diterima. Namun, dalam unggahan terbarunya, Presiden Donald Trump tidak menyinggung persoalan biaya transit maupun pengaturan lain terkait jalur strategis tersebut.
Nasib Uranium Iran Jadi Hambatan Utama Negosiasi
Salah satu isu paling krusial dalam perundingan adalah masa depan program nuklir Iran, terutama stok uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi. Cadangan tersebut diyakini terkubur akibat serangan militer AS pada tahun lalu dalam konflik singkat antara kedua negara.
Iran selama ini bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan memiliki hak untuk melakukan pengayaan uranium. Namun, Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Barat mencurigai program tersebut sebagai upaya untuk mengembangkan senjata nuklir.
Araghchi pada Jumat mengatakan bahwa satu-satunya cara menangani uranium yang telah diperkaya adalah dengan mengencerkannya di dalam wilayah Iran.
Di sisi lain, Trump yang sebelumnya membenarkan perang sebagai langkah untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, pernah menyatakan bahwa AS akan mengambil dan menghancurkan uranium tersebut.
Dalam unggahannya pada Sabtu, Trump mengatakan bahwa "ketika situasi sudah benar-benar tenang, kami akan masuk dan mengambil debu nuklir itu, lalu mengencerkannya serta menghancurkannya, baik di Iran maupun di Amerika Serikat."
Dia menambahkan bahwa dirinya berharap proses tersebut dapat berjalan cepat, mudah, dan lancar.
"Jika tidak, kami memiliki alternatif terakhir yang paling kuat, yang mudah-mudahan tidak perlu digunakan lagi," kata Trump.
Netanyahu Ingin Uranium Iran Harus Disingkirkan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang bersama AS melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Februari lalu, menyatakan bahwa Trump telah menjamin setiap kesepakatan yang tercapai harus mencakup penghapusan material nuklir yang telah diperkaya.
Meski optimisme terhadap kesepakatan meningkat, sebagian warga Iran masih meragukan proses tersebut akan benar-benar berakhir dengan perjanjian damai.
"Saya tidak yakin kesepakatan akan tercapai dalam waktu dekat. Saya tidak percaya pada janji mereka," kata Saeed Sadeghi, warga berusia 49 tahun di Teheran.
Sementara itu, seorang warga di Kota Tonekabon yang hanya memperkenalkan diri sebagai Ali menilai rakyat Iran akan tetap menjadi pihak yang dirugikan, terlepas dari ada atau tidaknya kesepakatan.
"Baik ada kesepakatan maupun tidak, keduanya tidak menguntungkan rakyat. Jika mereka mencapai kesepakatan dan tidak lagi khawatir terhadap tekanan internasional, mereka akan menindas rakyat jauh lebih keras," ujarnya merujuk pada otoritas Iran.