Trump Klaim Batalkan Serangan karena Telah Capai Kesepakatan, Iran Langsung Bereaksi
Iran memberikan tanggapan tegas terhadap klaim yang dilontarkan oleh Trump.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa ia telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran setelah negara tersebut menyetujui rancangan kesepakatan yang mencakup perpanjangan gencatan senjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta dimulainya negosiasi selama 60 hari mengenai program nuklir Iran.
Klaim ini muncul setelah Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah dekat. Namun, Teheran menegaskan bahwa belum ada keputusan final yang diambil.
Meskipun demikian, tiga sumber yang terlibat dalam perundingan mengungkapkan kepada Axios bahwa beberapa perbedaan penting berhasil dipersempit dalam pembicaraan antara pejabat Iran dan perwakilan Qatar yang bertindak sebagai mediator pada Rabu (10/6).
Trump menyampaikan kepada wartawan di Ruang Oval bahwa, menurut pemahamannya, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, telah memberikan persetujuan terhadap rancangan kesepakatan tersebut. Namun, Axios melaporkan bahwa kesepakatan yang sedang dinegosiasikan itu masih berupa nota kesepahaman yang ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade AS.
Dengan kata lain, isu yang lebih luas seperti program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS masih memerlukan perundingan lebih lanjut. Optimisme Trump juga tercermin dalam unggahannya di Truth Social, di mana ia menyatakan bahwa pembicaraan dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan telah memperoleh persetujuan.
"Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya, sebagai Presiden AS, telah membatalkan serangan dan pengeboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam (Kamis) ini," tulis Trump.
Respons Iran
Ia juga mengklaim bahwa poin-poin akhir kesepakatan tersebut telah disetujui, "baik secara konsep maupun secara sangat rinci," oleh semua pihak yang terlibat, termasuk AS, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Mesir. Meski Trump menyampaikan optimisme tersebut, Iran membantah bahwa kesepakatan telah disetujui.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa kesepakatan belum difinalisasi.
"Sebagian besar teks sebenarnya telah selesai, tetapi pihak AS terus mengubah posisi mereka."
Baghaei juga menambahkan bahwa Iran belum mengambil keputusan final mengenai sebuah kesepakatan. Di tengah perbedaan sikap itu, proses negosiasi tetap berlangsung, dan hingga larut malam pada Rabu di Teheran, utusan Qatar, Ali Al-Thawadi, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berupaya menjembatani perbedaan yang masih tersisa antara AS dan Iran.
Menurut tiga sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, pihak Qatar dan Iran meyakini telah mencapai rumusan teks yang juga dapat diterima oleh AS. Sejumlah perbedaan yang sebelumnya menghambat perundingan disebut berhasil dipersempit pada tiga isu utama.
Pertama, mekanisme pencairan aset Iran yang dibekukan, yang menjadi perhatian utama Teheran. Kedua, pengaturan pembukaan kembali Selat Hormuz selama masa gencatan senjata 60 hari. Ketiga, mekanisme pelaksanaan negosiasi mengenai program nuklir Iran selama periode tersebut.
Sumber-sumber itu juga mengungkapkan bahwa para pejabat Iran telah memberi tahu sejumlah negara pada Kamis bahwa pembicaraan di Teheran menghasilkan kesepakatan secara prinsip. Kendati demikian, Khamenei masih harus memberikan persetujuan akhir.
Reaksi Israel
Perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan di balik keyakinan Trump bahwa kesepakatan semakin dekat. Dalam perkembangan terbaru, Trump mengaku telah berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan sejumlah pemimpin kawasan lainnya.
Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa meskipun Israel bukan pihak dalam nota kesepahaman tersebut, Netanyahu menyampaikan apresiasinya atas komitmen Trump bahwa kesepakatan akhir hasil negosiasi akan mencakup penghapusan material nuklir yang telah diperkaya, pembongkaran infrastruktur pengayaan, pembatasan produksi rudal, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksinya di kawasan.
Sementara itu, kantor Emir Qatar menyebut Trump telah menyampaikan bahwa kesepahaman yang dicapai "telah memperoleh persetujuan dari seluruh pihak terkait." Di tengah perkembangan tersebut, seorang sumber yang mengetahui situasi itu mengungkapkan bahwa Netanyahu tidak menerima pemberitahuan lebih awal dan terkejut ketika Trump merilis pernyataan awal mengenai kesepakatan tersebut.
Trump menuturkan bahwa nota kesepahaman itu dapat ditandatangani pada akhir pekan ini di Eropa, dengan Wakil Presiden JD Vance diperkirakan akan memimpin delegasi AS.
"Dokumen-dokumennya sudah berada pada tahap yang sangat final, jadi kita lihat saja nanti," kata Trump.
Gedung Putih telah beberapa kali meyakini bahwa kesepakatan sudah hampir tercapai selama konflik berlangsung. Namun, beberapa putaran negosiasi yang sebelumnya dianggap mendekati kesepakatan pada akhirnya kembali berujung gagal.