Iran Tolak Negosiasi di Tengah Ancaman AS
Pernyataan itu disampaikan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani.
Iran tidak pernah bernegosiasi di bawah ancaman atau tekanan dan tidak akan pernah tunduk pada hal tersebut, kata Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, pada Rabu (10/6).
"Iran tidak pernah bernegosiasi di bawah ancaman dan tekanan dan tidak akan pernah tunduk pada tekanan," kata Iravani dalam sesi Dewan Keamanan PBB tentang Timur Tengah, seperti dilansir Antara, Kamis (11/6).
Ia menekankan bahwa jika Washington benar-benar tertarik pada solusi diplomatik, Washington harus meninggalkan bahasa ancaman dan berdialog dengan Iran atas dasar saling menghormati dan kesetaraan kedaulatan.
Serangan terhadap Helikopter Apache
Sebelumnya pada hari yang sama, Axios melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mengadakan pertemuan untuk membahas operasi serangan udara baru terhadap Iran setelah bersumpah untuk melanjutkan aksi permusuhan atas negosiasi yang macet.
Presiden juga mengatakan bahwa Iran telah menunda pembicaraan, dan sekarang Teheran "harus membayar harganya." Pernyataan tersebut disampaikan setelah Komando Pusat AS menginformasikan bahwa pasukan AS melakukan serangan terhadap Republik Islam sebagai tanggapan atas serangan terhadap helikopter Apache.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Kemudian, Iran menanggapi serangan brutal tersebut dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Selanjutnya pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata. Namun, pembicaraan selanjutnya yang diadakan di Islamabad berakhir tanpa terobosan.