Mengenal Front Paydari, Kekuatan Politik Garis Keras Baru yang Berusaha Kuasai Iran
Kemunculan Front Paydari kembali menjadi sorotan dalam dinamika politik Iran.
Kemunculan Front Paydari kembali menjadi sorotan dalam dinamika politik Iran. Kelompok yang dikenal memiliki pandangan konservatif garis keras itu disebut terus berupaya memperluas pengaruhnya di berbagai institusi negara Iran, meski belum berhasil menguasai penuh pusat-pusat kekuasaan.
Menurut pengamat politik sekaligus mantan penasihat Presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani, Gholam Ali Rajai, Front Paydari saat ini menjadi salah satu kekuatan politik yang aktif mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar dalam kepemimpinan nasional Iran.
Dalam wawancara dengan Anadolu Agency (AA) yang dikutip merdeka.com, Kamis (11/6/2026), Rajai menjelaskan peta politik Iran selama ini didominasi oleh tiga kelompok utama, yakni reformis, konservatif, dan moderat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Front Paydari muncul sebagai kekuatan baru yang mencoba mengambil peran lebih besar.
Front Paydari dan Ambisi Politiknya
Rajai menilai Front Paydari merupakan perpaduan antara unsur Masyarakat Hojjatiyeh dan kelompok konservatif tradisional.
"Gerakan ini terdiri dari gabungan Masyarakat Hojjatiyeh dan kaum konservatif. Kita melihat gerakan Payidari di dalam kalangan konservatif. Gerakan ini berhasil memegang jabatan presiden dan eksekutif selama dua periode. Mahmoud Ahmadinejad secara efektif mewakili gerakan ini, tetapi seiring waktu terjadi jarak di antara mereka," jelasnya.
Menurut Rajai, kelompok tersebut pernah memiliki pengaruh besar pada masa pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Namun hubungan keduanya kemudian merenggang seiring perkembangan politik di Iran.
Rajai mengungkapkan bahwa Front Paydari telah lama mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan pergantian kepemimpinan tertinggi Iran. Menurutnya, kelompok tersebut berharap dapat memengaruhi proses pemilihan pemimpin baru sekaligus memperluas pengaruhnya di berbagai lembaga negara.
"Mereka mengantisipasi bahwa Kepemimpinan Kedua (Ali Khamenei) pada akhirnya akan berakhir karena mati syahid, sakit, atau usia tua, dan mereka telah menyiapkan kandidat untuk pemimpin baru. Kandidat mereka adalah Bapak Mohammad Mehdi Mir Bakeri, yang berada di Qom. Dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei, mereka gagal dalam upaya ini," jelasnya.
Gagal Kuasai Parlemen dan Presiden
Meski memiliki pengaruh yang cukup besar, Rajai menilai Front Paydari belum berhasil mendominasi parlemen Iran.
"Mereka juga belum sepenuhnya menguasai parlemen. Mereka memiliki persentase yang signifikan di parlemen, tetapi bukan mayoritas mutlak," katanya.
Selain itu, kelompok tersebut juga dinilai gagal mencapai target politiknya dalam pemilihan presiden. Upaya mendorong Saeed Jalili untuk mengalahkan Presiden Masoud Pezeshkian tidak membuahkan hasil.
"Namun yang lebih penting, mereka mengalami kekalahan dalam pemilihan presiden. Mereka mencoba mengalahkan Presiden petahana Masoud Parzashkian dengan menjadikan Said Jalili terpilih, tetapi mereka gagal. Mereka dikalahkan di kedua bidang tersebut," katanya.
Meski demikian, Rajai menilai kelompok tersebut belum menyerah dan masih berupaya memengaruhi arah politik nasional.
Khawatir Iran Didorong ke Arah yang Lebih Konfrontatif
Rajai mengungkapkan kekhawatirannya terhadap agenda politik Front Paydari yang dinilai berpotensi mendorong Iran ke arah yang lebih konfrontatif.
"Namun mereka belum menyerah. Mereka ingin menyeret negara ini ke jalan yang radikal. Jika mereka berhasil, mereka mendukung kelanjutan perang, mendukung agar api perang tidak padam. Menurut pendapat saya, mungkin mereka berpikir ini akan menguntungkan mereka. Mungkin mereka khawatir tentang kemampuan untuk mengirimkan kandidat mereka sendiri ke kursi kepresidenan jika terjadi perubahan politik," bebernya.
Menurutnya, rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam beberapa pemilu terakhir turut membantu kelompok tersebut memperoleh representasi yang lebih besar di parlemen.
Rajai mengatakan bahwa terpilihnya Mojtaba Khamenei belum membawa perubahan signifikan dalam keseimbangan kekuatan politik Iran. Ia menilai kelompok konservatif tradisional masih memiliki pengaruh kuat baik dalam pemerintahan maupun struktur militer. Namun, sosok pemimpin baru masih belum cukup dikenal untuk dianalisis secara mendalam.
Negosiasi dengan AS dan Peran Negara Mediator
Mengenai hubungan Iran dengan Amerika Serikat, Rajai menilai tidak terdapat perbedaan mendasar antara kelompok reformis dan konservatif tradisional terkait pentingnya diplomasi. Namun, ia mengakui masih ada kelompok garis keras yang menolak negosiasi.
"Sikap garis keras ini tidak ada dalam gerakan reformis, dan mereka percaya bahwa setiap perang pada dasarnya harus diakhiri melalui negosiasi, dan itulah yang kita saksikan sekarang. Ini adalah garis pemikiran yang tulus," katanya.
Ia juga menyinggung pandangan mendiang Akbar Hashemi Rafsanjani yang mendukung dialog langsung antara Iran dan Amerika Serikat tanpa perlu terlalu bergantung pada mediator. Meski demikian, Rajai mengakui kontribusi sejumlah negara dalam meredakan ketegangan regional.
"Tentu saja, peran mediasi negara-negara seperti Pakistan, Turki, dan China telah efektif dalam masalah ini, dan kami berharap perang ini akan berakhir selamanya, bukan hanya untuk dua atau tiga bulan seperti yang diinginkan Trump dan kemungkinan akan ia jadikan alasan untuk menyerang," katanya.
Puji Kepemimpinan Pezeshkian saat Krisis
Rajai menilai Presiden Masoud Pezeshkian menunjukkan kepemimpinan yang efektif selama masa konflik dan ketegangan regional. Menurutnya, pemerintah telah melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk, baik dari sisi militer, ekonomi, maupun logistik nasional.
"Mereka yang berada di pemerintahan telah memperkirakan kemungkinan perang dan mampu melakukan persiapan, baik secara militer, ekonomi, maupun dalam negeri. Persediaan makanan melimpah," katanya.
Ia juga menilai negara-negara tetangga seperti Turki dan Irak memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan dan mendukung Iran di tengah situasi sulit.