Iran: Jika Terjadi Serangan, Israel dan Semua Pangkalan Serta Kapal AS akan Jadi Target Sah!
Pezeshkian menuding Amerika Serikat dan Israel berupaya “menabur kekacauan dan ketidaktertiban” di Iran dengan memerintahkan terjadinya “kerusuhan”.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian membahas kondisi ekonomi nasional dan apa yang ia sebut sebagai “tuntutan rakyat” dalam sebuah wawancara yang disiarkan televisi pemerintah pada Minggu. Dalam wawancara tersebut, Pezeshkian menuding Amerika Serikat dan Israel berupaya “menabur kekacauan dan ketidaktertiban” di Iran dengan memerintahkan terjadinya “kerusuhan”.
Ia juga mengimbau masyarakat Iran untuk menjauhkan diri dari apa yang disebutnya sebagai “perusuh dan teroris”.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan”. Pernyataan itu disampaikannya menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyebut akan melancarkan serangan militer jika otoritas Iran membunuh para demonstran.
"Mari kita perjelas: Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita,” kata mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam itu saat berbicara di parlemen, Minggu (11/1/2026) dilansir Aljazeera.
Perang 12 Hari dan Demonstrasi Anti-Pemerintah
Iran sendiri masih dibayangi dampak perang selama 12 hari dengan Israel dan Amerika Serikat pada tahun lalu, setelah Israel melancarkan serangan mendadak pada Juni 2025. Dalam konflik tersebut, fasilitas nuklir Iran dibom oleh AS.
Ratusan warga sipil, komandan militer, dan ilmuwan dilaporkan tewas akibat serangan Israel. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan ratusan rudal balistik ke kota-kota di Israel, yang menewaskan 28 orang.
Saat ini, Iran juga menghadapi gelombang demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, yang dipicu krisis ekonomi akibat sanksi-sanksi Barat yang melumpuhkan perekonomian.
Aksi protes yang dimulai sejak akhir Desember itu menjadi yang terbesar sejak gelombang demonstrasi 2022–2023, yang dipicu kematian Mahsa Amini dalam tahanan setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat bagi perempuan.
Eskalasi Baru
Melaporkan dari Teheran, koresponden Al Jazeera Tohid Asadi menyebut pernyataan Qalibaf sebagai “tingkat eskalasi baru, setidaknya secara retoris”. Ia juga melaporkan bahwa sejumlah anggota parlemen Iran sempat menyerbu podium parlemen sambil meneriakkan, “Matilah Amerika!”
Menurut Asadi, pihak berwenang berupaya membedakan antara demonstran dan kelompok yang mereka sebut sebagai perusuh atau, menurut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, sebagai penyabotase.
“Mereka mengatakan bahwa mereka memahami situasi dan kompleksitas yang terkait dengan kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Qalibaf juga mengakui hak rakyat untuk menyampaikan protes.
Trump Umbar Janji Siap Bantu Demonstran Iran
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu menyatakan bahwa Amerika Serikat “siap membantu” para demonstran Iran yang menghadapi penindakan aparat.
“Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin belum pernah sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump mengatakan Iran berada dalam “masalah besar” dan kembali mengingatkan bahwa ia dapat memerintahkan serangan militer.
“Itu bukan berarti mengerahkan pasukan darat, tetapi itu berarti menyerang mereka dengan sangat, sangat keras – di titik yang paling menyakitkan,” kata Trump.
Sementara itu, pemadaman internet nasional di Iran masih terus berlangsung dan telah berjalan lebih dari 60 jam, menurut lembaga pemantau Netblocks.
“Langkah sensor tersebut merupakan ancaman langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga Iran pada saat yang krusial bagi masa depan negara ini,” demikian pernyataan Netblocks pada Minggu.
Peringatan dari Militer Iran
Kepala Kepolisian Iran Ahmad-Reza Rada mengatakan tingkat konfrontasi dengan para perusuh telah ditingkatkan.
Dalam pernyataan terpisah pada Sabtu, militer Iran menegaskan akan membela “kepentingan nasional” negara tersebut, seraya menuding Israel dan “kelompok teroris yang bermusuhan” berupaya “merusak keamanan publik” di tengah meluasnya aksi protes.
“Angkatan Darat, di bawah komando Panglima Tertinggi, bersama dengan angkatan bersenjata lainnya, selain memantau pergerakan musuh di wilayah tersebut, akan dengan tegas melindungi dan menjaga kepentingan nasional, infrastruktur strategis negara, dan harta benda publik,” bunyi pernyataan itu.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia pun mendesak adanya pengekangan di tengah laporan korban jiwa dan penangkapan massal. LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia menyebut sedikitnya 51 demonstran, termasuk sembilan anak-anak, tewas akibat tindakan pasukan keamanan, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka.
100 Petugas Iran Tewas
Sementara itu, media pemerintah Iran mengatakan puluhan anggota pasukan keamanan telah tewas selama demontrasi. Televisi pemerintah melaporkan pada hari Minggu bahwa 30 anggota polisi dan pasukan keamanan tewas di provinsi Isfahan dan enam lainnya di Kermanshah di Iran barat dalam kerusuhan terbaru.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan pada hari Minggu bahwa 109 personel keamanan telah tewas dalam protes di seluruh negeri.
Sementara itu, Bulan Sabit Merah Iran mengatakan seorang anggota staf meninggal dunia selama serangan terhadap salah satu gedung bantuan mereka di Gorgan, ibu kota provinsi Golestan.
Media pemerintah juga melaporkan bahwa sebuah masjid dibakar di Mashhad, Iran timur, pada Sabtu malam.