Presiden Iran Tegaskan Serangan ke Ali Khamenei Sama dengan Deklarasi Perang
Trump menyebut Khamenei sebagai "pemimpin yang tidak sehat" dan mengkritik sikap serta kebijakan yang diambil oleh pemimpin Iran tersebut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mengingatkan bahwa setiap serangan terhadap pemimpin tertinggi Iran akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap bangsa Iran. Peringatan ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut bahwa sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran. Situasi di dalam negeri Iran dilaporkan masih tegang akibat gelombang demonstrasi besar dan pemadaman akses internet yang telah berlangsung selama sepuluh hari.
Menurut laporan dari France24 yang mengutip kelompok pemantau internet Netblocks, akses internet sempat kembali secara terbatas pada Minggu (10/1/2026) waktu setempat sebelum terputus kembali.
Netblocks mencatat bahwa lalu lintas internet di Iran sempat meningkat setelah pemulihan singkat dan sangat terbatas pada beberapa layanan Google dan aplikasi pesan, namun kemudian kembali menurun.
Demonstrasi di Iran mulai pecah pada akhir Desember, dipicu oleh kemarahan publik terhadap kesulitan ekonomi. Aksi protes ini kemudian berkembang menjadi protes nasional yang dianggap sebagai tantangan terbesar bagi kepemimpinan Iran dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun unjuk rasa mereda setelah aparat keamanan melakukan penindakan keras, kelompok hak asasi manusia menyebut tindakan tersebut sebagai "pembantaian" yang dilakukan di bawah perlindungan pemadaman komunikasi nasional yang dimulai pada 8 Januari.
Pemerintah Iran menyatakan bahwa demonstrasi awalnya berlangsung damai sebelum berubah menjadi kerusuhan. Otoritas Iran juga menuduh adanya campur tangan asing, terutama dari AS dan Israel, yang selama ini menjadi musuh utama Teheran.
Di sisi lain, Trump, yang pada bulan Juni lalu berkolaborasi dengan Israel dalam perang selama 12 hari melawan Iran, sebelumnya berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer baru terhadap Teheran jika para pengunjuk rasa terus dibunuh. Meskipun Washington tampak mengendurkan sikapnya, Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam wawancara dengan Politico pada hari Sabtu.
Dalam wawancara tersebut, Trump menyatakan, "Ia adalah pemimpin yang 'sakit' dan seharusnya mengelola negaranya dengan baik, bukan membunuh rakyatnya sendiri." Menanggapi pernyataan Trump, Presiden Pezeshkian menulis di platform media sosial X pada hari Minggu bahwa "serangan terhadap pemimpin besar negara kami sama dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran."
Berita yang Tidak Jelas
Di tengah ketegangan yang meningkat antara pemimpin di Washington dan Teheran, pejabat Iran mengungkapkan bahwa situasi di jalanan telah kembali stabil. Wartawan dari AFP melaporkan kehadiran pasukan keamanan yang menggunakan kendaraan lapis baja dan sepeda motor di pusat kota Teheran.
Sekolah-sekolah di Iran telah dibuka kembali pada hari Minggu setelah ditutup selama seminggu. Dalam rapat kabinet, Pezeshkian menyampaikan rekomendasi kepada sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi untuk segera mencabut pembatasan internet. Beberapa pengguna melaporkan bahwa mereka sudah dapat mengakses WhatsApp. Panggilan internasional keluar telah berfungsi kembali sejak hari Selasa lalu, sementara layanan pesan singkat dipulihkan pada hari Sabtu (17/1).
Kantor berita Fars melaporkan pada hari Minggu bahwa direktur utama Irancell, yang merupakan operator seluler terbesar kedua di Iran, telah dipecat karena tidak mematuhi keputusan pemerintah untuk memutus akses internet.
Di sisi lain, aksi solidaritas terhadap para pengunjuk rasa Iran terus berlangsung di berbagai kota di dunia, termasuk Berlin, London, dan Paris. Walaupun akses komunikasi dibatasi, informasi tetap berhasil keluar dari Iran. Kelompok-kelompok hak asasi manusia melaporkan adanya kesaksian dan video yang menunjukkan dugaan kekejaman yang dilakukan oleh aparat keamanan.
Amnesty International mengungkapkan bahwa mereka telah memverifikasi puluhan video dan laporan yang menunjukkan adanya pembantaian terhadap para demonstran oleh pasukan keamanan.
Organisasi Iran Human Rights (IHR), yang berbasis di Norwegia, mengklaim telah memverifikasi kematian 3.428 pengunjuk rasa akibat tindakan aparat keamanan. Proses verifikasi dilakukan melalui sumber dari sistem kesehatan Iran, saksi mata, serta sumber independen lainnya.
Namun, IHR memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. Media internasional belum dapat mengonfirmasi angka tersebut secara independen, dan pejabat Iran juga belum merilis angka resmi terkait jumlah korban tewas. Perkiraan lain menunjukkan bahwa jumlah korban meninggal bisa lebih dari 5.000 orang, bahkan mungkin mencapai 20.000 jiwa. IHR menyatakan bahwa pemadaman internet sangat menghambat upaya verifikasi independen.
Saluran oposisi Iran International yang berbasis di luar negeri mengklaim sedikitnya 12.000 orang tewas selama gelombang protes, mengutip sumber senior dari pemerintah dan aparat keamanan Iran. Namun, angka tersebut telah dibantah oleh lembaga peradilan Iran.