Harga BBM Berpotensi Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Perjanjian dengan AS Selamatkan RI
Tak hanya harga BBM, ia juga tidak memungkiri jika konflik AS-Israel dan Iran bakal turut membuat harga minyak dunia melambung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tidak menyangkal bahwa konflik yang memanas di Iran dan kawasan Timur Tengah saat ini bakal turut mendongkrak harga BBM di dalam negeri.
Hanya saja, ia tidak terlalu khawatir pasokan minyak mentah dan BBM ke pasar domestik bakal tersendat. Lantaran Indonesia sudah memiliki perjanjian dagang dengan beberapa negara lain di luar Timur Tengah, termasuk Amerika Serikat (AS).
"Otomatis (harga BBM) akan naik sama seperti saat perang Ukraine kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya," ujar Menko Airlangga saat dijumpai di kantornya, Jakarta, Senin (2/3).
Tak hanya harga BBM, ia juga tidak memungkiri jika konflik AS-Israel dan Iran bakal turut membuat harga minyak dunia melambung. Ini terjadi karena Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi tempat lalu lalang banyak kapal pengangkut minyak.
Antisipasi Pemerintah
"Tentu kalau Iran udah pasti yang terganggu adalah supply minyak. Dan supply minyak itu karena selat Hormuz kan terganggu, belum juga Red Sea. Jadi kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlangsung," ungkapnya.
Kembali, Airlangga menekankan bahwa pemerintah telah menyiapkan antisipasi dengan melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoI) bersama Amerika Serikat.
"Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari non middle east. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain," kata dia.