Di Forum Internasional, Menko Airlangga Blak-blakan RI Waspadai Harga Minyak Jika Perang AS-Iran Berkepanjangan
Menurut Airlangga, pergerakan harga energi akan menjadi indikator utama dalam mengukur dampak ekonomi global dari konflik tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai dampak utama yang perlu diwaspadai apabila konflik antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung lebih lama adalah lonjakan harga minyak dunia.
Menurut Airlangga, pergerakan harga energi akan menjadi indikator utama dalam mengukur dampak ekonomi global dari konflik tersebut. Ia memperkirakan harga minyak berpotensi naik hingga di atas USD 110 per barel apabila ketegangan terus berlanjut.
"Itu tergantung pada harga minyak. Jadi, kita melihat bahwa setiap harga minyak mencapai lebih dari USD 110, maka konsumsi domestik di AS meningkatkan harga. Jadi, selalu ada beberapa langkah yang harus diambil untuk menurunkan harga minyak," kata Airlangga dalam acara Brussels Economc Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6).
Meski demikian, pemerintah menilai harga minyak tidak akan kembali ke level ekstrem sekitar USD 140 per barel seperti yang terjadi pada periode 2007-2008. Dalam skenario konflik saat ini, batas atas harga minyak diperkirakan berada di kisaran USD 110 per barel dengan rata-rata sekitar USD 100 per barel.
"Jadi, kita memperkirakan bahwa harga minyak tidak akan kembali ke tahun 2007 atau 2008, di mana harga minyak tertinggi adalah USD 140, tetapi dalam perang ini batasnya sekitar USD 110. Jadi rata-rata kita berada di angka USD 100. Jadi, kita akan melihat bagaimana kelanjutannya," jelasnya.
Belajar dari Perang Ukraina
Airlangga mengatakan dinamika yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan dampak ekonomi yang muncul akibat perang Rusia-Ukraina serta gangguan rantai pasok global pada masa pandemi COVID-19.
Kala itu, harga energi melonjak tajam karena terganggunya pasokan global. Namun, seiring berjalannya waktu, pasar mampu melakukan penyesuaian melalui peningkatan produksi dari negara lain sehingga tekanan harga mulai mereda.
"Hal yang sama seperti yang terjadi dengan perang Ukraina di sini. Mereka juga menaikkan harga energi selama COVID. Tetapi setelah itu, kemudian turun," ujarnya.
Ia mencontohkan sektor pangan, khususnya komoditas biji-bijian, yang sempat terdampak akibat terganggunya ekspor dari Ukraina. Namun, pasokan dari negara produsen lain akhirnya mampu menggantikan kekurangan tersebut sehingga harga kembali menyesuaikan.