Airlangga Paparkan Skenario Terburuk Defisit APBN Capai 4,06 Persen Akibat Konflik Asia Barat
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan skenario terburuk Defisit APBN yang dapat mencapai 4,06 persen, memicu kekhawatiran akibat eskalasi konflik di kawasan Asia Barat.
Jakarta, 13/3 (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan skenario terburuk dampak perang di kawasan Asia Barat terhadap keuangan negara. Khususnya, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berpotensi menyentuh angka 4,06 persen.
Paparan ini disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada hari Jumat. Airlangga merinci tiga skenario yang mungkin terjadi jika konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berlarut hingga 6 bulan bahkan 10 bulan.
Skenario paling pesimis menunjukkan defisit APBN akan mencapai 4,06 persen, dengan asumsi harga minyak mentah dunia $115 per barel dan kurs rupiah Rp17.500 per dolar AS. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan 5,2 persen, sementara imbal hasil surat berharga negara (SBN) mencapai 7,2 persen.
Dampak Konflik Asia Barat terhadap Ekonomi Nasional
Konflik yang berkepanjangan di kawasan Asia Barat berpotensi besar menimbulkan gejolak pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu dampak langsung yang paling mengkhawatirkan. Hal ini akan membebani APBN melalui subsidi energi dan biaya impor minyak yang lebih tinggi.
Selain itu, ketidakpastian global akibat konflik juga dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Fluktuasi kurs yang signifikan akan berdampak pada sektor impor dan utang luar negeri, serta berpotensi menekan daya beli masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk meredam dampak negatif ini.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi. Berbagai indikator makroekonomi menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Oleh karena itu, penetapan kebijakan fiskal dan moneter harus mempertimbangkan dinamika global yang tidak terduga.
Tiga Skenario Defisit APBN yang Dipaparkan
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga Hartarto juga melaporkan dua skenario lainnya yang relatif lebih moderat. Meskipun demikian, kedua skenario ini tetap mengasumsikan defisit APBN melampaui angka 3 persen.
Skenario pertama memproyeksikan defisit APBN sebesar 3,18 persen. Asumsi yang digunakan adalah harga minyak mentah dunia $86 per barel, kurs rupiah Rp17.000 per dolar AS (dengan asumsi APBN Rp16.500), pertumbuhan ekonomi 5,3 persen, dan imbal hasil SBN 6,8 persen. Ini adalah skenario yang lebih optimis dibandingkan yang terburuk.
Sementara itu, skenario kedua menunjukkan defisit APBN mencapai 3,53 persen. Asumsi untuk skenario ini meliputi harga minyak mentah dalam negeri (ICP) $97 per barel, kurs rupiah Rp17.300 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan imbal hasil SBN 7,2 persen. Skenario ini berada di antara skenario pertama dan skenario terburuk.
Tantangan Menjaga Stabilitas Fiskal
Airlangga Hartarto menegaskan bahwa defisit APBN di atas 3 persen akan sulit dipertahankan. Hal ini kecuali pemerintah bersedia melakukan pemotongan belanja atau memangkas target pertumbuhan ekonomi. Situasi ini menempatkan pemerintah di persimpangan kebijakan yang krusial.
Pilihan untuk memotong belanja negara dapat berdampak pada program-program pembangunan dan pelayanan publik. Sementara itu, pemangkasan target pertumbuhan ekonomi berisiko memperlambat pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang cermat dan terukur.
Pembahasan lebih lanjut dalam rapat terbatas menjadi sangat penting untuk merumuskan langkah-langkah mitigasi. Pemerintah perlu mengidentifikasi prioritas belanja yang tidak dapat dipangkas dan mencari sumber pendapatan alternatif. Selain itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter juga harus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Sumber: AntaraNews