Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan lonjakan harga minyak dunia yang sempat mendekati 100 dolar AS per barel tidak akan mengguncang stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pernyataan ini disampaikan setelah percakapan intens dengan Presiden Prabowo Subianto mengenai kekhawatiran tekanan harga minyak terhadap fiskal negara. Pemerintah memastikan telah menghitung secara matang berbagai skenario untuk menjaga ketahanan APBN.
“Presiden menanyakan ‘Bagaimana APBN?’. Saya menjawab, ‘Aman Pak!’,“ ujar Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Jumat. Keyakinan ini didasari oleh persiapan matang Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam menghadapi berbagai kemungkinan kenaikan harga minyak. Langkah mitigasi telah disiapkan secara komprehensif.
Kemenkeu telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menjaga stabilitas APBN di tengah tekanan global, terutama akibat kenaikan harga energi. Meskipun demikian, pemerintah mengakui bahwa langkah-langkah tersebut belum sepenuhnya tersampaikan kepada masyarakat, sehingga komunikasi publik mengenai kondisi fiskal ke depan akan diperkuat.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan tetap tenang dalam menghadapi dinamika global yang fluktuatif, meskipun pembahasan di internal berlangsung cukup intens. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan seluruh perhitungan dalam APBN dilakukan secara terukur dan transparan. Tidak ada angka-angka yang tidak bisa dihitung dalam APBN saat ini, menunjukkan akurasi dan kehati-hatian dalam perencanaan fiskal.
Kemenkeu telah mengantisipasi potensi tekanan dari kenaikan harga minyak dunia dengan menyusun berbagai skenario. Persiapan ini mencakup analisis mendalam terhadap dampak ekonomi makro dan penyusunan strategi respons yang fleksibel. Tujuannya adalah untuk meminimalkan risiko terhadap kesehatan fiskal negara dan menjaga keberlanjutan pembangunan.
Komitmen pemerintah untuk memperkuat komunikasi publik menjadi krusial dalam memberikan pemahaman yang jelas kepada masyarakat mengenai kondisi fiskal. Transparansi ini diharapkan dapat membangun kepercayaan dan mengurangi kekhawatiran publik terhadap dampak gejolak harga energi global pada perekonomian nasional.
Advertisement
Advertisement
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah skenario dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN. Menurutnya, jika berbagai asumsi tersebut terealisasi, defisit anggaran berpotensi melampaui batas 3 persen. Pemaparan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai tantangan yang mungkin dihadapi APBN.
Pada skenario pertama, harga Indonesian Crude Price (ICP) diperkirakan berada di kisaran 86 dolar AS per barel, dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp17.000 per dolar AS, lebih lemah dari asumsi APBN sebesar Rp16.500 per dolar AS. Dengan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan imbal hasil surat berharga negara sekitar 6,8 persen, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen.
Dalam skenario moderat, harga minyak diproyeksikan sekitar 97 dolar AS per barel dengan nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.300 per dolar AS. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, sehingga defisit berpotensi meningkat menjadi 3,53 persen. Skenario ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap APBN akan semakin besar jika kondisi global memburuk.
Advertisement
Adapun pada skenario pesimistis, harga minyak diperkirakan mencapai 115 dolar AS per barel, dengan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, defisit APBN diperkirakan melebar hingga 4,06 persen. Skenario terburuk ini menyoroti perlunya kewaspadaan tinggi dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi gejolak ekonomi global yang ekstrem.
Sumber: AntaraNews