Indef Tekankan Pengelolaan Bijak di Tengah Wacana Pelebaran Defisit APBN
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pentingnya pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) secara bijak di tengah mencuatnya wacana pelebaran defisit APBN hingga 4,06 persen akibat tekanan ekonomi global.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menekankan pentingnya pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) secara bijak. Hal ini disampaikan di tengah mencuatnya wacana pelebaran defisit fiskal akibat tekanan ekonomi global yang terus berlanjut.
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, saat dihubungi di Jakarta pada Sabtu (14/3/2026), menilai wacana pelebaran defisit APBN di atas 3 persen berpotensi menjadi realistis. Potensi ini terutama muncul jika berbagai asumsi makro ekonomi yang digunakan dalam penyusunan APBN tidak tercapai.
Wacana ini mengemuka setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan skenario terburuk dampak perang di kawasan Timur Tengah. Skenario tersebut dapat menyebabkan defisit APBN menyentuh angka 4,06 persen.
Tantangan Pelebaran Defisit APBN di Tengah Gejolak Global
Gejolak ekonomi global, khususnya konflik yang memanas di Timur Tengah, menciptakan tekanan signifikan terhadap keuangan negara. Kondisi ini menuntut kehati-hatian dalam setiap kebijakan fiskal yang diambil pemerintah. Ketidakpastian global berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi domestik.
Esther Sri Astuti dari Indef menjelaskan bahwa asumsi makro ekonomi yang meleset dalam APBN dapat secara otomatis mendorong defisit melampaui batas 3 persen. Situasi ini memerlukan respons kebijakan yang adaptif dan terukur. Pemerintah perlu mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk.
Ia mengingatkan bahwa pelebaran defisit ini berpotensi besar meningkatkan kebutuhan pembiayaan melalui penambahan utang baru. Peningkatan utang dapat menimbulkan beban fiskal di masa mendatang. Oleh karena itu, pengelolaan anggaran yang bijak sangat krusial.
Pengelolaan APBN yang hati-hati diperlukan untuk memastikan dampak ekonomi yang positif dan menghindari tekanan fiskal jangka panjang. Prioritas harus diberikan pada program yang memiliki multiplier effect tinggi. Kebijakan fiskal harus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Prioritas Belanja Negara dan Peningkatan Daya Saing
Indef menyarankan pemerintah untuk lebih selektif dalam menentukan prioritas belanja negara. Alokasi anggaran harus mempertimbangkan efektivitas dan dampak langsung terhadap perekonomian. Setiap rupiah yang dibelanjakan harus memberikan nilai tambah maksimal.
Program dengan kebutuhan anggaran besar sebaiknya diprioritaskan untuk daerah dengan kebutuhan khusus guna efektivitas anggaran. Pendekatan ini memastikan bahwa sumber daya dialokasikan ke area yang paling membutuhkan. Hal ini juga dapat mendorong pemerataan pembangunan ekonomi.
Anggaran negara akan lebih efektif jika diarahkan pada kegiatan yang mampu memberikan dampak ekonomi lebih luas, seperti mendorong ekspor dan sektor pariwisata. Sektor-sektor ini memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan negara. Dukungan terhadap sektor ini akan memperkuat fundamental ekonomi.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi dinilai penting untuk memperkuat daya saing industri manufaktur nasional. Investasi pada pendidikan dan pelatihan vokasi sangat krusial. Penguasaan teknologi akan mendorong inovasi dan produktivitas.
Skenario Defisit APBN Akibat Konflik Timur Tengah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah memaparkan skenario terburuk dampak perang di kawasan Timur Tengah terhadap keuangan negara. Paparan ini disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026).
Airlangga menjelaskan tiga skenario jika perang antara Iran versus Israel dan Amerika Serikat berlarut hingga 6 bulan bahkan 10 bulan. Skenario-skenario ini menunjukkan potensi tekanan signifikan terhadap APBN. Pemerintah perlu mempersiapkan langkah mitigasi.
Skenario pesimis menunjukkan defisit APBN dapat menyentuh angka 4,06 persen. Asumsi untuk skenario ini adalah harga minyak mentah dunia mencapai 115 dolar AS per barel, kurs rupiah Rp17.500 per dolar AS, pertumbuhan 5,2 persen, dan imbal hasil surat berharga negara (SBN) 7,2 persen.
Dua skenario lain yang lebih moderat juga mengindikasikan defisit APBN melampaui angka 3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa mempertahankan defisit di bawah 3 persen akan sangat sulit tanpa pemotongan belanja atau pertumbuhan. Situasi ini memerlukan tinjauan mendalam terhadap postur fiskal.
- Skenario 1 (Moderat): ICP 86 dolar AS/barel, kurs Rp17.000, pertumbuhan 5,3%, SBN 6,8%, defisit 3,18%.
- Skenario 2 (Moderat): ICP 97 dolar AS/barel, kurs Rp17.300, pertumbuhan 5,2%, SBN 7,2%, defisit 3,53%.
- Skenario 3 (Pesimis): ICP 115 dolar AS/barel, kurs Rp17.500, pertumbuhan 5,2%, SBN 7,2%, defisit 4,06%.
Sumber: AntaraNews