Rupiah Melemah Tajam, Defisit Fiskal APBN 2025 Melebar Jadi Pemicu Utama
Nilai tukar Rupiah melemah signifikan pada pembukaan perdagangan Jumat, dipicu oleh pelebaran defisit fiskal anggaran negara 2025 yang mencapai Rp695,1 triliun dan melampaui target awal.
Nilai tukar Rupiah menunjukkan pelemahan signifikan pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, bergerak turun 31 poin atau 0,18 persen. Mata uang Garuda kini berada di level Rp16.829 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.798 per dolar AS. Pelemahan ini menimbulkan kekhawatiran di pasar keuangan domestik.
Menurut Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, tekanan terhadap Rupiah ini utamanya disebabkan oleh realisasi anggaran negara untuk tahun fiskal 2025. Data menunjukkan adanya pelebaran defisit fiskal yang melampaui perkiraan awal. Situasi ini menciptakan sentimen negatif yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Defisit fiskal yang melebar menjadi 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) ini berada di atas perkiraan resmi sebesar 2,78 persen dari PDB. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi stabilitas ekonomi nasional, mengingat dampak langsungnya terhadap kepercayaan investor dan pergerakan mata uang.
Realisasi Defisit APBN 2025 Lampaui Target
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah melaporkan realisasi sementara defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025. Tercatat, defisit mencapai Rp695,1 triliun per 31 Desember 2025. Angka ini menunjukkan pelebaran yang signifikan dari target awal yang ditetapkan.
Realisasi defisit tersebut jauh melampaui target awal sebesar 2,53 persen pada APBN 2025. Selain itu, angka ini juga lebih tinggi dari proyeksi laporan semester yang sebesar 2,78 persen. Kondisi ini menempatkan defisit hampir menyentuh ambang batas yang ditetapkan oleh undang-undang, yaitu 3 persen dari PDB.
Pelebaran defisit fiskal ini menjadi indikator penting bagi kesehatan keuangan negara. Analis ekonomi akan terus mencermati bagaimana pemerintah akan mengelola kondisi ini di tengah tantangan ekonomi global dan domestik yang terus berkembang. Kebijakan fiskal yang prudent sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Sentimen Global dan Data Ekonomi Amerika Serikat
Di sisi lain, sentimen global juga turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan, meskipun dengan dampak yang bervariasi. Laporan dari Challenger, Gray & Christmas menunjukkan adanya penurunan pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat. PHK menurun sebesar 8,3 persen year on year (yoy) pada Desember 2025, mencapai 35.553, yang merupakan level terendah sejak Juli 2024.
Sementara itu, data US Initial Jobless Claims untuk pekan yang berakhir 3 Januari 2025 menunjukkan kenaikan menjadi 208 ribu dari 200 ribu pada pekan sebelumnya. Meskipun demikian, angka ini masih di bawah ekspektasi pasar yang memprediksi 212 ribu. Data tenaga kerja AS ini memberikan gambaran tentang kondisi ekonomi terbesar di dunia.
Josua Pardede juga menambahkan bahwa neraca perdagangan Amerika Serikat pada Oktober 2025 mencatat defisit terkecil sejak 2009. Defisit menyempit menjadi 29,4 miliar dolar AS di tengah impor yang lebih lemah. Perkembangan ekonomi global ini, khususnya dari Amerika Serikat, seringkali menjadi acuan bagi pasar keuangan di negara berkembang seperti Indonesia.
Sumber: AntaraNews