Prabowo Harap Skenario Terburuk di Timur Tengah Tak Terjadi, Waspadai Dampak Ekonomi Indonesia

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan harapan agar skenario terburuk di Timur Tengah tidak terjadi, seraya menegaskan kewaspadaan pemerintah terhadap potensi Dampak Konflik Timur Tengah pada perekonomian nasional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Prabowo Harap Skenario Terburuk di Timur Tengah Tak Terjadi, Waspadai Dampak Ekonomi Indonesia
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan harapan agar skenario terburuk di Timur Tengah tidak terjadi, seraya menegaskan kewaspadaan pemerintah terhadap potensi Dampak Konflik Timur Tengah pada perekonomian nasional. (AntaraNews)

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan harapannya agar skenario terburuk di Timur Tengah tidak terjadi, terutama setelah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berlangsung selama kurang lebih dua pekan. Pernyataan ini disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (13/3).

Di hadapan para menteri dan pejabat negara, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah antisipasi. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menghadapi dampak perang di kawasan Asia Barat serta mengkaji opsi penghematan anggaran.

Meskipun Indonesia dinilai relatif aman, Presiden mengingatkan jajarannya untuk tetap waspada dan tidak lengah. Kewaspadaan ini penting untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi di masa mendatang.

Antisipasi Pemerintah Terhadap Gejolak Global

Presiden Prabowo menekankan pentingnya kewaspadaan di tengah ketidakpastian global akibat konflik. Ia berharap skenario terburuk yang dibayangkan banyak pihak tidak akan menjadi kenyataan. Namun, ia juga mengakui adanya ramalan tentang potensi perang yang sangat panjang.

Pemerintah Indonesia, melalui Sidang Kabinet Paripurna, telah membahas secara mendalam dampak konflik tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan turut melaporkan catatan mereka. Laporan tersebut mencakup isu-isu krusial dan dampaknya bagi stabilitas nasional.

Prabowo menegaskan bahwa meskipun situasi di Indonesia relatif aman, tidak ada alasan untuk berpuas diri. Persiapan matang harus dilakukan untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk yang mungkin timbul dari gejolak di Timur Tengah.

Skenario Defisit APBN Akibat Konflik

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan beberapa skenario terkait potensi defisit APBN. Laporan ini disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna. Airlangga membuka kemungkinan defisit APBN melampaui angka 3 persen jika perang berlarut-larut.

Dalam skenario pertama, jika perang berlangsung hingga lima bulan, harga minyak mentah dunia diprediksi mencapai 90 dolar AS per barel. Kurs rupiah diasumsikan Rp17.000, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan imbal hasil SBN 6,8 persen. Kondisi ini akan menyebabkan defisit APBN sebesar 3,18 persen.

Skenario moderat menunjukkan harga minyak 97 dolar AS per barel jika perang berlanjut enam bulan. Kurs rupiah diperkirakan Rp17.300, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan imbal hasil SBN 7,2 persen. Defisit APBN dalam skenario ini diproyeksikan mencapai 3,53 persen.

Skenario terburuk atau pesimis memproyeksikan harga minyak mentah mencapai 115 dolar AS per barel jika perang berlangsung sepuluh bulan. Kurs rupiah bisa menyentuh Rp17.500, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan imbal hasil SBN 7,2 persen. Defisit APBN pada skenario ini diprediksi mencapai 4,06 persen.

  • **Perang 5 bulan:** Harga minyak $90/barel, kurs Rp17.000, pertumbuhan 5,3%, SBN 6,8%, defisit APBN 3,18%.
  • **Perang 6 bulan:** Harga minyak $97/barel, kurs Rp17.300, pertumbuhan 5,2%, SBN 7,2%, defisit APBN 3,53%.
  • **Perang 10 bulan:** Harga minyak $115/barel, kurs Rp17.500, pertumbuhan 5,2%, SBN 7,2%, defisit APBN 4,06%.

Airlangga menambahkan, dengan berbagai skenario ini, mempertahankan defisit APBN di bawah 3 persen akan sulit. Hal ini kecuali pemerintah bersedia memotong belanja dan pertumbuhan ekonomi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi