Perkuat Kerja Sama Vokasi Indonesia China, Kunci SDM Unggul Industri Global
Indonesia dan China didorong memperkuat kerja sama pendidikan vokasi untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang siap menghadapi tantangan industri global, termasuk transformasi digital dan kecerdasan buatan.
Indonesia dan China patut meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan vokasi dalam upaya mempersiapkan sumber daya manusia yang siap memenuhi tuntutan industri. Hal ini disampaikan oleh diplomat senior dan Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), Al Busyra Basnur.
Ia menyampaikan bahwa pendidikan vokasi merupakan jembatan strategis yang menghubungkan pendidikan dan industri, sehingga penguatan kerja sama bilateral di bidang tersebut merupakan langkah yang tepat lagi penting.
“Untuk membangun sumber daya manusia, Indonesia tidak bisa sendiri. Indonesia perlu bekerja sama dengan negara-negara yang memiliki kapasitas untuk itu, seperti China,” kata Al Busyra dalam konferensi tahunan pendidikan vokasional China-Indonesia di Yangzhou, China.
Pentingnya Pendidikan Vokasi di Era Transformasi Digital
Pendidikan vokasi menjadi jembatan strategis yang esensial dalam menghubungkan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. Penguatan kerja sama bilateral di sektor ini dianggap sebagai langkah yang sangat tepat dan krusial untuk masa depan.
Menurut keterangan tertulis yang dikonfirmasi di Jakarta, Al Busyra memandang perubahan dunia yang cepat, sebagaimana terlihat dari transformasi digital dan industri, manufaktur modern, energi hijau, dan kecerdasan buatan, menuntut penyiapan SDM yang semakin baik.
Kesiapan sumber daya manusia yang adaptif dan terampil menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika global ini. Tanpa SDM yang mumpuni, sebuah negara akan kesulitan bersaing di kancah internasional.
Manfaat Kerja Sama Bilateral dan Pengurangan Pengangguran
Di samping membuka peluang untuk mendapat pekerjaan yang layak, pendidikan vokasi juga membantu menciptakan inovasi baru dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui industri. Kolaborasi dengan negara-negara maju seperti China sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
“Pendidikan vokasi yang kuat dapat mengurangi pengangguran, meningkatkan produktivitas, dan membantu industri agar tetap kompetitif dalam menghadapi pasar global,” kata diplomat senior itu.
Oleh karena itu, Indonesia dan China perlu membangun kerja sama pendidikan vokasi bersama dengan industri-industri strategis yang ada di kedua negara. Sinergi ini akan memastikan kurikulum vokasi relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Inisiatif dan Program Kerja Sama Konkret
Konferensi tahunan pendidikan vokasional China-Indonesia yang dihadiri oleh seratusan mahasiswa dan akademisi diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Pengembangan Edukasi Vokasional China-Indonesia di Institut Politeknik Yangzhou (YPI). Acara ini menjadi platform penting untuk diskusi dan pertukaran ide.
Saat ini, terdapat sekitar 80 mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di YPI, menjadikan mereka kelompok mahasiswa asing terbesar di kampus tersebut. Hal ini menunjukkan minat yang tinggi dari pelajar Indonesia terhadap pendidikan vokasi di China.
Adapun pada awal tahun ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menginisiasi kerja sama antara Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) dengan Asosiasi Pendidikan Guangdong untuk Pertukaran Internasional (GEAIE).
Skema kerja sama tersebut mencakup pembentukan satu pusat kerja sama dan mekanisme aliansi, yang fokus pada 10 sektor utama industri, dengan penyelenggaraan lebih dari 100 kegiatan pertukaran dan pembelajaran. Hal ini ditujukan untuk peningkatan mobilitas dua arah sebanyak 1.000 mahasiswa antara Indonesia dan China serta pelatihan 10.000 talenta lokal Indonesia.
Sumber: AntaraNews