Pakar: Harga Minyak Dunia Berpotensi Melonjak hingga 130 Dolar AS
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi dapat mendorong Harga Minyak Dunia melonjak signifikan, bahkan mencapai 130 dolar AS per barel, menurut pakar energi Unpad.
Pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti, memproyeksikan bahwa harga minyak dunia masih memiliki potensi untuk naik secara signifikan. Kenaikan ini diperkirakan bisa mencapai level 130 dolar AS per barel. Prediksi ini akan terwujud apabila konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin memanas dan tidak terkendali.
Yayan menjelaskan bahwa penurunan harga minyak yang terjadi belakangan ini hanya bersifat sementara. Penurunan tersebut disebabkan oleh pelepasan pasokan minyak dalam jumlah besar oleh Amerika Serikat.
Kondisi geopolitik yang tidak stabil ini menjadi faktor utama yang dapat memicu lonjakan harga komoditas energi global. Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok dan produksi minyak secara drastis.
Fluktuasi Harga Minyak di Tengah Gejolak Geopolitik
Harga minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh 118 dolar AS per barel pada awal Maret, sebuah level yang tidak terlihat sejak Juni 2022. Angka ini jauh melampaui rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana Brent (ICE) berada di 64 dolar AS per barel dan US WTI di 57,87 dolar AS per barel.
Namun, harga minyak dunia kemudian anjlok ke kisaran 80–85 dolar AS per barel setelah para menteri energi dari kelompok G7 membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi. Langkah ini diambil di tengah lonjakan harga minyak yang terjadi sebelumnya, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama.
Penurunan harga minyak juga sejalan dengan potensi berakhirnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran sudah “very complete”. Namun, Iran melalui Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan tidak akan menyetujui gencatan senjata sampai pihak penyerang diberi pelajaran.
Dampak Eskalasi Konflik AS-Iran terhadap Pasokan Global
Ketegangan yang terus berlanjut antara Iran dan Amerika Serikat inilah yang diyakini oleh Yayan dapat menyebabkan harga minyak dunia kembali melonjak. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan harga akan menyentuh 130 dolar AS per barel.
Yayan menyoroti bahwa penurunan harga minyak saat ini hanya bersifat sementara, dan eskalasi konflik justru semakin tinggi. Hal ini diperparah dengan rencana Amerika Serikat untuk mengirim pasukan darat (ground troops) ke Iran.
Apabila pengerahan pasukan darat ini benar-benar terjadi, Yayan memprediksi akan ada kerusakan infrastruktur dan terhentinya jaringan rantai pasok minyak tanpa batas waktu yang jelas. Pengerahan pasukan darat akan menimbulkan dampak yang lebih besar, dengan ambisi Amerika Serikat untuk menduduki Iran lebih dari satu tahun, seperti kasus Irak dan Afghanistan.
Ambisi Amerika Serikat dalam Pasar Minyak Global
Berdasarkan analisis Yayan, Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis untuk menggeser pasar minyak Timur Tengah ke Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari total pasar. Tujuan utama dari pergeseran ini adalah untuk menekan harga minyak pada pertengahan atau akhir tahun 2026.
Ambisi ini juga terlihat jelas ketika Amerika Serikat menyerang Venezuela pada awal tahun 2026, menunjukkan upaya aktif untuk memengaruhi dinamika pasar minyak global. Dengan harga minyak dunia yang lebih rendah, biaya rantai pasok Amerika Serikat dapat menjadi lebih murah dan lebih efisien.
Kebijakan luar negeri AS ini tidak hanya berfokus pada stabilitas regional, tetapi juga pada penguasaan dan pengendalian sumber daya energi. Ini dilakukan demi keuntungan ekonomi dan strategis jangka panjang.
Sumber: AntaraNews