Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Ketegangan di Timur Tengah
Harga minyak Brent dan WTI mengalami kenaikan lebih dari 1% akibat kekhawatiran mengenai pasokan yang terpengaruh oleh ketegangan antara AS dan Iran.
Harga minyak mengalami kenaikan lebih dari 1% pada perdagangan Rabu, 11 Februari 2026, atau Kamis waktu Jakarta. Kenaikan ini disebabkan oleh potensi risiko terhadap pasokan yang dapat terjadi jika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat.
Di sisi lain, penarikan minyak mentah dari cadangan utama menunjukkan adanya permintaan yang lebih kuat. Mengutip CNBC pada Kamis (12/2/2026), harga minyak Brent tercatat naik sebesar USD 1,13 atau 1,64%, menjadi USD 69,93 per barel pada pukul 1.38 PM ET. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat sebesar USD 1,15 atau 1,8%, menjadi USD 65,11.
"Ketegangan yang berkelanjutan di Timur Tengah terus mendukung harga, meskipun sejauh ini belum ada gangguan pasokan," ungkap Analis UBS, Giovanni Staunovo.
Selain itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan pada Selasa pekan ini bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah, meskipun AS dan Iran bersiap untuk melanjutkan negosiasi guna mencegah terjadinya konflik baru.
"Meskipun retorika terkadang tetap agresif, setidaknya untuk saat ini, belum ada tanda-tanda eskalasi, dan Presiden AS percaya bahwa Iran pada akhirnya akan ingin mencapai kesepakatan tentang program rudal nuklirnya," kata analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, dalam sebuah catatan.
Dolar AS yang sedikit melemah juga berkontribusi pada kenaikan harga minyak. Mata uang AS yang lebih kuat biasanya merugikan permintaan minyak mentah yang berdenominasi dolar dari pembeli asing. Penarikan minyak mentah dari stok yang disimpan secara independen di pusat penyulingan dan penyimpanan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp (ARA) serta dari Fujairah menunjukkan bahwa pasar sedang ketat, menurut Staunovo dari UBS, yang juga mendukung harga minyak.
Strategi OPEC
Di pasar minyak global, OPEC umumnya mempertahankan proyeksi terkait penawaran dan permintaan dalam laporan bulanan mereka. Namun, mereka juga menunjukkan bahwa permintaan minyak global untuk minyak mentah dari kelompok yang lebih luas diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 400.000 barel per hari pada kuartal kedua jika dibandingkan dengan kuartal pertama.
Selain itu, produksi minyak Rusia tercatat sedikit menurun sekitar 0,6% pada bulan Januari dibandingkan bulan Desember, seperti yang tercantum dalam laporan tersebut.
Di sisi lain, Mesir telah menginstruksikan perusahaan-perusahaan minyak internasional untuk menggandakan produksi mereka pada tahun 2030. Dalam hal ini, kontrak yang ada akan direvisi untuk mendorong investasi baru, menurut pernyataan manajer negara Energean International untuk Mesir kepada Reuters pada hari Selasa.
Sementara itu, para pedagang juga sedang menantikan data persediaan minyak mingguan dari Administrasi Informasi Energi yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu. Dilaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS mengalami peningkatan sebesar 13,4 juta barel pada pekan yang berakhir pada 6 Februari, menurut sumber yang mengutip angka dari Institut Perminyakan Amerika pada hari Selasa.
Harga Minyak Turun Tipis
Harga minyak mengalami penurunan sedikit pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) karena pasar menunggu informasi lebih lanjut mengenai hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, upaya untuk mengakhiri konflik di Ukraina, serta data terkait ekonomi AS dan persediaan minyak. Menurut laporan dari CNBC pada Rabu (11/2/2026), harga minyak Brent turun sebesar 24 sen, atau 0,35%, menjadi USD 68,80 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sebesar 40 sen, atau 0,62%, menjadi USD 63,96.
Dalam analisis yang dilakukan oleh Gelber & Associates, seorang analis menyebutkan, "(Para pedagang) ragu untuk menekan ke arah mana pun sampai ada sinyal yang lebih jelas dari diplomasi, data persediaan berikutnya, atau konfirmasi apa pun bahwa arus pasokan secara signifikan terpengaruh dan bukan hanya terancam."
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan pada hari Selasa bahwa pembicaraan nuklir dengan AS memberikan kesempatan bagi Teheran untuk menilai keseriusan Washington dan menunjukkan adanya konsensus yang cukup untuk melanjutkan dialog diplomatik.
Selat Hormuz
Pekan lalu, diplomat dari Amerika Serikat dan Iran melakukan pembicaraan melalui mediator di Oman untuk mencoba menghidupkan kembali diplomasi yang terhenti. Upaya ini dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump mengerahkan armada angkatan laut ke kawasan tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan aksi militer yang baru.
"Pasar masih fokus pada ketegangan antara Iran dan AS. Namun, kecuali ada tanda-tanda konkret gangguan pasokan, harga kemungkinan akan mulai turun," ungkap Tamas Varga, Analis Minyak di Pialang PVM.
Lebih dari 20% minyak yang dikonsumsi secara global melewati Selat Hormuz, yang terletak antara Oman dan Iran. Oleh karena itu, setiap peningkatan ketegangan di wilayah ini menjadi ancaman serius bagi pasokan minyak global. Iran, bersama dengan negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengandalkan selat tersebut untuk mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka, terutama ke pasar Asia.