Pasar Khawatir, Harga Minyak Dunia Meroket Hampir 7 Persen
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik hampir 7 persen dan ditutup di level USD 89,61 per barel.
Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan yang signifikan pada perdagangan hari Senin. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya konflik terbuka. Lonjakan harga ini terjadi setelah kedua negara terlibat dalam serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran strategis untuk distribusi energi global.
Dikutip dari CNBC, Selasa (21/4), harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik hampir 7 persen dan ditutup di level USD 89,61 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari 5 persen ke posisi USD 95,48 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur vital pengiriman energi dunia.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat setelah Angkatan Laut AS menembaki kapal kontainer Iran di Teluk Oman pada hari Minggu. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Marinir AS kemudian mengambil alih kapal tersebut.
Menurut Trump, kapal itu mencoba menerobos blokade laut yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan Iran. Aksi ini terjadi setelah Iran lebih dulu menyerang kapal tanker di Selat Hormuz pada hari Sabtu. Kapal patroli Garda Revolusi Iran dilaporkan menembaki tanker tersebut, sementara satu kapal kontainer lainnya terkena proyektil yang belum diketahui asalnya, menurut laporan dari otoritas maritim Inggris.
Setiap Langkah Menuju Eskalasi
Kepala strategi komoditas di ING, Warren Patterson, menyatakan bahwa pasar minyak kembali terguncang oleh situasi yang berkembang di Timur Tengah. "Harga minyak kembali terombang-ambing oleh perkembangan di Timur Tengah, di mana apa yang tampak sebagai de-eskalasi dengan cepat berubah menjadi eskalasi kembali," ujarnya dalam catatan riset.
Hal ini semakin diperburuk setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman untuk menghancurkan infrastruktur penting Iran jika negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Patterson juga mengungkapkan bahwa serangan Iran terhadap kapal pada akhir pekan lalu merupakan 'pelanggaran total' terhadap perjanjian gencatan senjata yang dijadwalkan akan berakhir pekan ini. Ketidakpastian semakin meningkat terkait rencana perundingan damai lanjutan antara kedua negara.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa pembicaraan tersebut akan dilaksanakan di Islamabad, Pakistan. Namun, Iran menolak untuk hadir dengan alasan adanya blokade laut AS yang masih berlangsung, menurut laporan dari kantor berita pemerintah IRNA.
Amerika Serikat dan Iran Teguh Pendirian Masing-Masing
Eskalasi yang mendadak ini terjadi setelah sebelumnya kedua negara terlihat mendekati kesepakatan. Bahkan, harga minyak sempat mengalami penurunan pada hari Jumat lalu setelah Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz dibuka untuk lalu lintas komersial.
Namun, situasi dengan cepat berubah. Iran kembali menegaskan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat mencabut blokade lautnya, sementara pihak AS tetap bersikeras untuk mempertahankan tekanan tersebut. Ketidakpastian yang muncul akibat situasi ini membuat pasar energi global berada dalam kondisi yang sangat waspada.