Harga Minyak Dunia Meroket Dipicu Ketegangan di Yaman
Koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi di Yaman juga menyatakan akan merespons setiap tindakan militer dari kelompok separatis selatan di Provinsi Hadramout.
Harga minyak dunia mengalami peningkatan pada perdagangan hari Senin, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di Yaman. Selain itu, harapan untuk tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina semakin meredup, yang turut mendorong kenaikan harga minyak.
Mengutip laporan CNBC pada Selasa (30/12), harga minyak mentah Brent mencatatkan kenaikan lebih dari USD 1 atau sekitar 1,7 persen, mencapai USD 61,64 per barel. Di sisi lain, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga mengalami penguatan sebesar USD 1,10 atau 1,9 persen, yang membawa harganya ke level USD 57,84 per barel.
Kenaikan harga minyak ini terjadi di tengah persiapan pelaku pasar menghadapi kemungkinan gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Di samping itu, Rusia telah menuduh Ukraina melakukan serangan drone yang ditujukan ke kediaman Presiden Vladimir Putin, yang bisa mengganggu proses perundingan damai antara kedua negara.
"Fokus pasar telah bergeser ke Timur Tengah, di mana ketidakstabilan baru, termasuk serangan udara Arab Saudi di Yaman, terus memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan," tulis Gelber & Associates dalam catatan mereka.
Koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi di Yaman juga menyatakan akan merespons setiap tindakan militer dari kelompok separatis selatan di Provinsi Hadramout yang dianggap dapat merusak upaya deeskalasi konflik.
Pernyataan resmi dari kantor berita Saudi disampaikan pada hari Sabtu lalu, menegaskan komitmen mereka terhadap stabilitas di kawasan tersebut. Dalam laporan terbaru, eskalasi pertempuran yang terjadi pada hari Kamis lalu dilaporkan telah menewaskan dua anggota Hadhrami Elite Forces, yang merupakan sayap militer dari Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC).
Sebagai respons, serangan udara oleh Arab Saudi diluncurkan pada Jumat dini hari, yang menyasar pasukan STC di wilayah tersebut, menurut informasi yang diperoleh dari Reuters.
Rusia Menuduh Ukraina
Di tempat lain, Moskow menuduh Ukraina telah melancarkan serangan drone ke kediaman presiden Rusia yang terletak di wilayah utara negara tersebut. Menanggapi hal ini, Rusia menyatakan akan mempertimbangkan kembali posisinya dalam negosiasi damai. Ukraina, di sisi lain, membantah semua tuduhan tersebut dan menyebut pernyataan Rusia sebagai upaya untuk mencari "false justifications" guna melancarkan serangan lebih lanjut.
Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengungkapkan bahwa telah terjadi kemajuan yang signifikan dalam pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump. Keduanya sepakat bahwa tim dari AS dan Ukraina akan melakukan pertemuan pada pekan depan untuk merumuskan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengakhiri perang.
Selain itu, Trump juga dilaporkan telah melakukan panggilan telepon yang "positif" dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait konflik di Ukraina.
Harga Minyak Dunia Sebelumnya
Pada perdagangan yang berlangsung Jumat lalu, harga minyak mengalami penurunan lebih dari 2 persen karena meningkatnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai di Ukraina. Di sisi lain, impor minyak mentah China yang kuat melalui jalur laut turut memberikan dampak pada ketatnya pasar global.
Menurut analis UBS, Giovanni Staunovo, harga USD 60 per barel dianggap sebagai level dasar yang cukup kuat untuk minyak Brent. Ia juga menambahkan bahwa ada potensi pemulihan harga pada tahun 2026 ketika pertumbuhan pasokan dari negara-negara non-OPEC+ mulai melambat.
Saat ini, pelaku pasar sedang menunggu data persediaan minyak dari AS untuk pekan yang berakhir pada 19 Desember. Survei memperkirakan bahwa stok minyak mentah AS akan mengalami penurunan, sedangkan persediaan bensin dan distilat justru diperkirakan meningkat.