Putin Beri Sinyal Siap Bertemu Zelenskyy di Tengah Konflik Ukraina, tapi Ada Syaratnya
Berikut syarat yang diinginkan oleh Putin bertemu Zelenskyy.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada hari Sabtu (9/5/2026), menyatakan kesiapannya untuk bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di negara ketiga mana pun.
Namun, Putin menegaskan bahwa pertemuan tersebut hanya akan dilakukan untuk menyelesaikan perjanjian damai yang bertujuan mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat tahun.
Dalam konferensi pers yang digelar di Moskow, Putin juga mengungkapkan bahwa ia mendengar dari Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, bahwa Zelenskyy bersedia untuk mengadakan pertemuan.
Ia menekankan bahwa ia tidak pernah menolak kemungkinan untuk bertemu dengan Zelenskyy dan mengusulkan agar pertemuan tersebut diadakan di ibu kota Rusia.
“Pertemuan di negara ketiga memungkinkan, tetapi hanya jika kesepakatan akhir mengenai perjanjian damai telah dicapai,” kata Putin seperti yang dilaporkan oleh kantor berita Anadolu.
Ia menambahkan bahwa perjanjian itu harus dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang.
Dalam kesempatan yang sama, Putin menyatakan bahwa perang antara Rusia dan Ukraina saat ini sudah "menuju akhir".
Ia juga menuduh para politisi Barat berusaha untuk "meningkatkan konfrontasi" dengan Moskow. Selain itu, Putin membahas mengenai gencatan senjata dan pertukaran tahanan 1.000 banding 1.000 antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Ia mengungkapkan dukungan Rusia terhadap usulan tersebut dan berharap pihak Ukraina akan meresponsnya. "Sayangnya, kami belum menerima usulan apa pun sejauh ini," ujarnya.
Putin mengungkapkan bahwa Rusia sebelumnya telah mengusulkan pertukaran tahanan 500 banding 500 kepada Ukraina sebelum usulan dari Trump muncul.
"Reaksi awal mereka adalah ingin mempelajarinya lebih dulu. Mereka mengatakan jumlah tahanan yang ditukar mungkin tidak sampai 500 orang, melainkan sekitar 200 orang. Setelah itu, mereka benar-benar menghilang dan secara terbuka menyatakan belum siap untuk pertukaran ini. Mereka tidak menginginkannya," ungkap Putin.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun Amerika Serikat berupaya membantu menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung, masalah ini pada dasarnya adalah urusan antara Rusia dan Ukraina.
AS Melihat Rusia dan Ukraina Gencatan Senjata
Pada Jumat (8/5), Trump mengungkapkan pandangannya di platform media sosial Truth Social mengenai gencatan senjata yang berlangsung selama tiga hari antara Rusia dan Ukraina.
"Mudah-mudahan, ini adalah awal dari akhir perang yang sangat panjang, mematikan, dan berlangsung sengit. Pembicaraan untuk mengakhiri konflik besar ini, yang terbesar sejak Perang Dunia II, terus berlangsung, dan kita semakin dekat setiap harinya," tulis Trump.
Selain itu, Putin juga menyinggung rencana Armenia, yang merupakan bekas republik Soviet, untuk bergabung dengan Uni Eropa.
Ia menekankan bahwa isu tersebut memerlukan "pertimbangan khusus" dan telah dibahas beberapa kali dengan Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan.
"Saya dapat mengulanginya secara terbuka sekarang: kami akan mendukung segala sesuatu yang menguntungkan rakyat Armenia... Kami memiliki hubungan khusus dengan rakyat Armenia selama berabad-abad. Jika keputusan tertentu memang menguntungkan rakyat Armenia, silakan lanjutkan, kami tidak akan keberatan. Tetapi tentu saja, kami juga harus mempertimbangkan keadaan tertentu yang penting bagi kami dan para mitra kami," terangnya.
Dia juga menilai bahwa Armenia mendapatkan banyak keuntungan sebagai anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), yang dipimpin oleh Rusia. Ia berpendapat bahwa Armenia perlu segera memutuskan antara bergabung dengan Uni Eropa atau tetap berada di EAEU.
"Itu bukan urusan kami, tetapi pada prinsipnya akan sepenuhnya logis untuk mengadakan referendum dan menanyakan kepada warga Armenia apa pilihan mereka," jelas Putin.
Ia menekankan bahwa setelah keputusan diambil, semua pihak bisa menarik kesimpulan yang sesuai dan menjalani proses yang ia sebut sebagai "perceraian" yang "damai, cerdas, dan saling menguntungkan."
Selain itu, Putin menyebutkan bahwa rencana Armenia untuk mendekat ke Uni Eropa kemungkinan akan dibahas dalam KTT EAEU di Kazakhstan yang dijadwalkan akhir bulan ini. EAEU sendiri terdiri dari beberapa negara Eurasia, termasuk Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Armenia dan Uni Eropa memang terus mempererat hubungan. Pada bulan Maret lalu, parlemen Armenia meloloskan rancangan undang-undang untuk memulai proses aksesi ke Uni Eropa.
RUU tersebut kemudian ditandatangani oleh Presiden Armenia, Vahagn Khachaturyan, pada bulan April. Rusia menilai langkah Armenia untuk memulai pembahasan soal keanggotaan Uni Eropa sebagai tanda bahwa negara tersebut sedang bergerak menuju keluar dari EAEU.