Kim Jong-un Puji Tindakan Bunuh Diri Tentara Korea Utara dalam Perang Rusia-Ukraina
Korea Selatan memperkirakan bahwa sekitar 15.000 tentara Korea Utara telah dikirim oleh Kim Jong Un untuk memberikan bantuan kepada Rusia di wilayah Kursk.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, memuji tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh sejumlah tentaranya yang bertempur bersama Rusia dalam perang melawan Ukraina. Pernyataan ini disampaikan dalam pidato resmi yang dianggap mengonfirmasi praktik ekstrem yang sebelumnya banyak dilaporkan oleh intelijen dan pembelot.
Dalam pidatonya pada Senin (27/4/2026), Kim menyebut tentara yang "memilih meledakkan diri tanpa ragu" sebagai pahlawan yang membela kehormatan negara. Ia menegaskan bahwa pengorbanan tanpa pamrih merupakan bentuk tertinggi loyalitas militer Korea Utara.
Pernyataan tersebut disampaikan saat peresmian monumen untuk prajurit yang gugur di Pyongyang, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita negara KCNA. Acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pertahanan Rusia, Andrey Belousov, dan Ketua parlemen Rusia, Vyacheslav Volodin, dikutip dari laman BBC, Rabu (29/4). Sejumlah laporan menyebutkan bahwa tentara Korea Utara yang dikerahkan ke wilayah konflik berada di bawah instruksi untuk menghindari penangkapan dengan cara bunuh diri. Praktik ini sejalan dengan doktrin militer Pyongyang yang menganggap penyerahan diri sebagai bentuk pengkhianatan.
Pemerintah Korea Selatan memperkirakan sekitar 15.000 tentara Korea Utara telah dikirim untuk membantu Rusia di wilayah Kursk, dengan lebih dari 6.000 di antaranya dilaporkan tewas. Namun, angka tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh Pyongyang maupun Moskow. Awal tahun ini, laporan media Korea Selatan menampilkan kesaksian tawanan perang Korea Utara di Ukraina yang mengaku menyesal tidak melakukan bunuh diri saat ditangkap. Badan intelijen Seoul juga sebelumnya menemukan dokumen yang mengindikasikan adanya praktik tersebut di kalangan pasukan.
Kirim Tenaga Kerja Selain Pasukan
Dalam pidatonya, Kim turut memuji para prajurit yang gugur di garis depan, termasuk mereka yang dianggap gagal menjalankan misi namun tetap menunjukkan loyalitas kepada negara. Kerja sama militer antara Korea Utara dan Rusia semakin menguat sejak kedua negara menandatangani perjanjian pertahanan bersama pada Juni 2024.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Kim saat itu sepakat untuk saling membantu jika salah satu pihak menghadapi agresi. Selain mengirim pasukan, Korea Utara juga berkomitmen untuk mengirim tenaga kerja guna membantu rekonstruksi wilayah terdampak konflik di Rusia, termasuk di kawasan Kursk.