Makin Tegang, Korea Utara Mau Kerahkan Artileri Baru di Perbatasan Korsel
Apa yang menjadi alasan Korea Utara mengerahkan artileri di daerah perbatasan?
Korea Utara berencana untuk menempatkan sistem artileri baru di sepanjang perbatasan dengan Korea Selatan, yang diperkirakan akan semakin memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea. Pada Jumat (8/5/2026), media pemerintah Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa pemimpin Kim Jong Un telah mengunjungi sebuah pabrik amunisi untuk mengecek produksi meriam howitzer swa-gerak 155 milimeter tipe baru.
Menurut laporan KCNA, artileri ini memiliki jangkauan lebih dari 60 kilometer dan dijadwalkan akan ditempatkan tahun ini di unit artileri jarak jauh yang dekat dengan perbatasan Korea Selatan.
Dengan kemampuan jangkauan tersebut, pusat Kota Seoul dan sebagian besar Provinsi Gyeonggi, yang merupakan daerah dengan kepadatan penduduk tertinggi serta pusat beberapa kawasan industri utama, diperkirakan akan berada dalam radius serangan.
KCNA mengutip pernyataan Kim Jong Un yang menyebutkan bahwa sistem senjata baru ini akan memberikan "perubahan dan keuntungan signifikan" bagi operasi militer darat Korea Utara, sebagaimana dilansir oleh Channel News Asia pada Sabtu (9/5). Langkah yang diambil oleh Pyongyang ini terjadi di tengah memburuknya hubungan antara kedua negara, meskipun pemerintah Korea Selatan telah beberapa kali menawarkan dialog dan upaya untuk menciptakan perdamaian.
Korea Utara tetap menunjukkan sikap konfrontatif terhadap Seoul. Dalam beberapa tahun terakhir. Pyongyang telah meledakkan jalur jalan dan rel kereta yang menghubungkannya dengan Korea Selatan serta memperkuat pertahanannya di wilayah perbatasan.
Secara teknis, kedua negara masih dalam kondisi perang, karena konflik yang berlangsung dari tahun 1950 hingga 1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan dengan perjanjian damai yang permanen. Selain itu, perubahan sikap keras Korea Utara juga terlihat dari revisi konstitusi negara tersebut.
Peninjauan terbaru terhadap dokumen resmi menunjukkan bahwa semua referensi mengenai penyatuan kembali Semenanjung Korea telah dihapus. Konstitusi yang baru tidak lagi mencantumkan klausul yang menyatakan upaya "menyatukan kembali tanah air". Sebagai penggantinya, wilayah Korea Utara kini didefinisikan berbatasan dengan China dan Rusia di utara, serta "Republik Korea"—nama resmi untuk Korea Selatan—di bagian selatan.
Meskipun demikian, pada hari Kamis, kantor kepresidenan Korea Selatan menyatakan bahwa Seoul akan terus melanjutkan upaya untuk mencapai perdamaian dengan Pyongyang.
Kim Jong Un Kunjungi Kapal Perusak Choe Hyon
Dalam laporan terpisah, KCNA melaporkan bahwa Kim Jong Un melakukan kunjungan ke kapal perusak Choe Hyon yang memiliki bobot 5.000 ton. Kunjungan ini bertujuan untuk mengawasi uji coba kapal sebelum resmi dioperasikan, yang berlangsung di Laut Kuning, dan dihadiri oleh putrinya, Ju Ae.
Media pemerintah menampilkan sejumlah foto yang menunjukkan Kim sedang memeriksa kemampuan kapal perang tersebut bersama para pejabat militer. Beberapa foto lainnya memperlihatkan Kim dan Ju Ae berada di ruang makan kapal bersama para marinir, yang menunjukkan suasana akrab di antara mereka.
Kapal perang Choe Hyon sebelumnya diketahui telah digunakan dalam peluncuran rudal jelajah strategis oleh Korea Utara. Sejumlah analis memperkirakan bahwa rudal tersebut memiliki potensi untuk dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir.
Dalam laporan tersebut, KCNA menyebutkan bahwa Kim merasa puas dengan perkembangan kapal perang itu. Ia juga memberikan perintah agar kapal tersebut segera diserahkan kepada angkatan laut pada pertengahan Juni sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.